Sabtu, 29 Juli 2017

AS Tuding Suriah Sembunyikan Pembunuhan Massal dengan Krematorium

Selasa, 16 Mei 2017 12:49
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Washington(MedanPunya) Amerika Serikat (AS) menuding Suriah sengaja membangun krematorium di dalam penjara, demi menyembunyikan pembunuhan massal yang dilakukannya. Krematorium itu disebut digunakan untuk 'menghancurkan' ribuan tahanan yang tewas dibunuh.

Departemen Luar Negeri AS merilis citra satelit untuk mendukung tudingan bahwa rezim Suriah melakukan pembunuhan massal di dalam penjara setempat.

"Amerika Serikat menyatakan, seperti yang telah disampaikan beberapa kali, bahwa kami ngeri atas kekejaman yang dilakukan rezim Suriah. Dan kekejaman ini tampaknya telah dilakukan dengan dukungan mutlak dari Rusia dan Iran (sekutu rezim Suriah)," ucap Diplomat AS untuk Kawasan Timur Tengah, Stuart Jones.

Jones memberikan pesan khusus untuk Presiden Rusia Vladimir Putin untuk 'mengendalikan' sekutunya. "Rusia, dengan urgensi besar, sekarang harus mempraktikkan pengaruhnya terhadap rezim Suriah untuk menjamin pelanggaran mengerikan itu berhenti sekarang," tegasnya.

Peringatan Jones ini dilontarkan menjelang digelarnya kembali perundingan damai antara rezim Suriah dan kelompok oposisi di Jenewa, Swiss. Perundingan itu dimediasi oleh PBB. Delegasi oposisi Suriah menyambut baik pernyataan AS itu. Namun mereka mengeluhkan pernyataan itu dilontarkan terlalu terlambat.

"Ini hanya satu tetes (air) di tengah lautan. Apa yang terjadi di dalam penjara rezim (Suriah) jauh lebih buruk dari ini. Waktunya telah tiba untuk dunia -- terutama AS -- untuk bertindak demi menghentikan pelanggaran HAM ini," tegas pemimpin delegasi oposisi Suriah, Nasr al-Hariri.

Foto citra satelit yang dirilis AS diambil pada Januari 2015. Citra satelit itu menunjukkan hamparan salju di atap salah satu gedung di kompleks penjara militer Saydnaya meleleh. Citra satelit lainnya menunjukkan sistem ventilasi tak biasa dan rumit pada struktur bangunan di kompleks itu.

Citra satelit itu mendukung klaim kelompok HAM yang menyebut kompleks militer Saydnaya merupakan pusat eksekusi mati. "Berawal tahun 2013, rezim Suriah memodifikasi sebuah gedung di dalam kompleks Saydnaya untuk mendukung apa yang kami yakini sebagai sebuah krematorium," sebut Jones.

"Sebuah upaya untuk menutupi praktik pembunuhan massal yang terjadi di Saydnaya," jelas Jones, yang juga Pelaksana Tugas Asisten Menteri Luar Negeri AS. Ditambahkan Jones, bahwa informasi ini datang dari badan-badan kemanusiaan yang kredibel dan komunitas intelijen AS.

Jones tidak menyebut jumlah total tahanan yang dibunuh di dalam kompleks penjara itu. Namun dia mengutip laporan Amnesty International yang menyebut sekitar 5 ribu - 11 ribu tahanan tewas di penjara itu antara tahun 2011-2015. Jones menyatakan, bukti-bukti gambar lain selain citra satelit itu juga dimiliki AS. Namun dia tidak menjelaskan mengapa AS menunggu selama dua tahun sebelum merilis bukti-bukti ini.

"Saya katakan informasi ini terus berkembang," tandasnya.***dtc/mpc/bs

Dibaca 78 Kali