Sabtu, 18 November 2017

Mulai Terkuak, Misteri Kecelakaan yang Menewaskan Sekjen PBB

Rabu, 18 Oktober 2017 11:04
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Washington(MedanPunya) Misteri yang melingkupi kecelakaan pesawat di tahun 1961 di Afrika Tengah mulai tersingkap.

Kecelakaan yang menewaskan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB) Dag Hammarskjold itu diduga terjadi akibat serangan udara.

Swedia menyebut kecelakaan itu sebagai 'sebuah luka yang terbuka', menyusul rangkaian pertanyaan yang tak terpecahkan mengenai kematian Hammarskjold.

Peristiwa itu terjadi saat perang dingin antara blok barat dan blok Soviet.

Temuan terbaru atas penyelidikan kecelakaan itu dilakukan dengan memperhitungkan seluruh informasi yang dirilis oleh Belgia, Inggris, Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat.

Hammarskjold adalah seorang diplomat asal Swedia yang telah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB sejak 1953.

Dia tewas ketika berada dalam perjalanan untuk menegosiasikan gencatan senjata di provinsi kata bahan tambang, Katanga, -wilayah Republik Demokratik Kongo.  

Hammarskjold tewas bersama 15 orang lainnya.

Pesawat yang ditumpangi Hammarskjold mengalami kecelakaan sekitar tanggal 17 atau 18 September 1961 di dekat Ndola, sebelah utara Rhodesia, yang sekarang dikenal dengan Zambia.

Dugaan awal, kecelakaan terjadi karena kesalahan pilot. Namun, sebuah komisi independen pada 2013 mencatat kemungkinan adanya "aksi musuh" dalam peristiwa itu.

Kemudian, komisi tersebut meminta penyelidikan lebih lanjut.

Mantan Hakim Agung Tanzania, Mohamed Chande Othman, memberikan laporan terbarunya mengenai penyelidikan kecelakaan itu kepada Sekjen PBB Antonio Guterres pada Agustus lalu.

Othman telah meninjau kembali arsip-arsip rahasia yang menjadi petunjuk penyebab terjadinya insiden tersebut.

"Berdasarkan kelengkapan informasi yang kami miliki, tampaknya masuk akal apabila serangan dan ancaman dari luar menjadi penyebab kecelakaan."

Demikian kutipan pernyataan Othman.

Dia menambahkan, pesawat dengan nomor SE-BDY itu kemungkinan jatuh akibat serangan langsung yang membuat pesawat menabrak, atau menyebabkan gangguan sesaat terhadap pilot.

Othman juga mengatakan, ada sejumlah bukti dari saksi mata yang melihat adanya lebih dari satu pesawat yang terbang di udara saat kecelakaan terjadi.

"Pesawat lain itu kemungkinan jet, terlihat saat SE-BDY terbakar sebelum akhirnya jatuh, dan/atau SE-BDY ditembaki atau sempat terhubung aktif dengan pesawat lain," ujarnya.

"Bukti-bukti itu sulit untuk diabaikan," kata dia.

Hakim pun menaruh perhatian terhadap informasi baru mengenai keberadaan pesawat yang dioperasikan oleh pemberontak Katanga.

Mereka menentang kemerdekaan Kongo dari Belgia.

Temuan itu pun menunjukkan para pemberontak memiliki kekuatan udara yang lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Bukti itu membantah teori sebelumnya bahwa pasukan Katanga mungkin telah menembak jatuh pesawat dan diyakini hanya memiliki satu jet -Fouga buatan Perancis.

Informasi terbaru diberikan Amerika Serikat, dan sumber lainnya, menunjukkan ada tiga pesawat jet Fouga yang dibeli dari Perancis.

Pesawat itu dikirim ke Katanga pada tahun 1961.

Selain itu, ada juga pesawat lain, salah satunya dari Jerman Barat yang digunakan di Katanga.

Dokumen yang diterima dari Inggris dan AS juga menunjukkan kedua negara itu memiliki agen di sekitar Kongo saat kecelakaan terjadi.

Namun, Othman tidak dapat memberi verifikasi atas klaim seorang pilot Belgia, 'Beukels', yang menyatakan kepada diplomat Perancis, Claude de Kemoularia pada 1967, bahwa dia menembak jatuh pesawat itu.

Permintaan informasi tersebut juga dikirim ke Afrika Selatan, yang disebut memiliki dokumen tentang 'Operasi Celeste'.

Operasi itu merupakan rencana untuk membunuh Hammarskjold, namun akses atas operasi itu belum dikabulkan.

Rusia dan Perancis juga diminta memberikan sejumlah dokumen.

Othman merekomendasikan agar pemerintah menunjuk seorang pejabat senior untuk menjelajahi keseluruhan arsip mereka, dengan memberi perhatian khusus pada penyadapan radio dan catatan terkait.

Laporan tersebut diharapkan dapat dipresentasikan ke muka Majelis Umum PBB.

Pada 2014, sebuah resolusi meminta penyelidikan penuh untuk membuka secara gamblang tentang kematian Hammarskjold ini.***kps/mpc/bs

Dibaca 87 Kali