Sabtu, 18 November 2017

Penembakan Massal di AS, Bukan Mental Pelaku Penyebabnya...

Selasa, 14 November 2017 11:01
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Washington(MedanPunya) Setelah Devin Patrick Kelley masuk ke gereja di Sutherland Springs, Texas, pada Minggu lalu dan menembak mati 26 orang, politikus Amerika Serikat menilai kasus itu disebabkan oleh kondisi kesehatan mental pelaku.

Masalah mental juga disoroti oleh Presiden AS Donald Trump yang berkicau di Twitter, bahwa serangan penembakan massal bukan disebabkan masalah kepemilikan senjata.

Pendapat Trump muncul ketika terdapat fakta, Kelley pernah kabur dari rumah sakit jiwa sekitar lima tahun lalu.

Namun, pakar kesehatan menyerukan agar masyarakat tidak mengaitkan antara kesehatan mental dengan penembakan massal.

Psikiater forensik dari Universitas Georgetown, Liza Gold mengatakan, sebagian penembakan massal tidak dilakukan oleh orang yang mengalami sakit jiwa.

"Negara kita dalam keadaan penyangkalan tentang sifat nyata dari kekerasan dengan senjata, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi angka kematian," katanya.

Dalam American Journal of Psychiatry pada 2015 menyebutkan, hanya 3-5 persen tindakan kekerasan di AS dilakukan oleh individu yang didiagnosis menderita sakit jiwa.

Persentase kejahatan dengan pistol bahkan lebih rendah daripada rata-rata nasional pelaku penembakan yang tidak menderita sakit jiwa.

Studi juga menemukan orang dengan sakit mental tidak akan menjadi pelaku kekerasan daripada orang yang tidak menderita penyakit itu. Hanya 1 persen, tindakan kekerasan dengan pembunuhan dilakukan oleh pasien psikiater.

Psikiater forensik di Columbia College of Physicians and Surgeon, Michael Stone, mengoleksi basis data 350 pembunuh massal dalam kurun waktu satu abad terakhir.

Stone menemukan hanya sekitar 20 persen pembunuh massal mengalami sakit mental. Dia mengatakan masalah sebenarnya berasal dari aksesibilitas senjata api.

Psikiater forensik di Columbia College of Physicians and Surgeon, Michael Stone, mengoleksi basis data 350 pembunuh massal dalam kurun waktu satu abad terakhir.

Stone menemukan hanya sekitar 20 persen pembunuh massal mengalami sakit mental. Dia mengatakan masalah sebenarnya berasal dari aksesibilitas senjata api.***kps/mpc/bs


Dibaca 30 Kali