Kamis, 14 Desember 2017

Dulu Swasembada Bawang Putih, Kini RI Bergantung pada China dan India

Sabtu, 13 Mei 2017 11:53
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Jakarta(MedanPunya) Indoneisa masih belum mampu memenuhi sendiri kebutuhan bawang putih. Komoditas tersebut masih harus diimpor dari China dan India.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkapkan, ada beberapa faktor yang membuat Indonesia harus mengimpor bawang putih dari China dan India.

Menurutnya, meskipun Indonesia merupakan negara beriklim tropis, akan tetapi tak semua jenis komoditas pangan bisa di produksi secara mandiri.

"Enggak bisa, belum bisa (produksi). Kalau sudah bisa saya tidak akan (impor). Seperti wortel, kami tidak izinkan untuk impor. Karena faktor cuaca. Hanya tempat tertentu dan iklim tertentu yang bisa (tanam bawang putih)," tegas Mendag.

Dengan hambatan tersebut, Kementerian Perdangan dan Kementerian Pertanian akan berupaya agar Indonesia mampu memproduksi bawang putih dan berhenti ketergantungan pada negara lain.

Salah satunya adalah membuka lahan pertanian bawang putih yang sesuai dengan karakteristik budidaya bawang putih dan membentuk kemitraan petani dengan importir bawang putih.

"Sekarang kami baru akan mendorong, Kementan dengan memilih zonanya, daerah-daerah tertentu untuk itu (tanam bawang putih). Ke depan, akan campur mereka (impotir), kami akan buat cluster untuk mereka, ikut bermitra dengan petani menanam bawang putih," ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 1998 Indonesia sempat mengalami swasembada bawang putih karena mampu memenuhi kebutuhan bawang putih nasional dengan total luas lahan 28.000 hektar.

Kala itu Indonesia hanya mengimpor bawang putih dibawah 10 persen dari kebutuhan bawang putih nasional. Namun kini, untuk komoditas tersebut hampir 95 persen dari total kebutuhan bawang putih nasional yang mencapai 400.000 ton dipenuhi dari negara lain atau impor.

Kenyaataan tersebut harus diterima karena lahan pertanian bawang putih nasional mengalami penyusutan drastis dari 28.000 hektar di tahun 1998 kini hanya tinggal 2.000 hektar yang tersisa, hal itu akibat beralihnya petani bawang putih ke komoditas lain lantaran harganya sudah tidak lagi menguntungkan.***kps/mpc/bs


Dibaca 119 Kali