Kamis, 27 April 2017

Polisi Dinilai Lambat Usut Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Jum'at, 21 April 2017 10:47
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Jakarta(MedanPunya) Kepolisian belum juga menemukan titik terang untuk mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Lewat dari sepekan, tepatnya 10 hari setelah kejadian, belum ada perkembangan berarti dari kasus tersebut.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, bukti-bukti yang dikantungi polisi belum dapat menunjukkan siapa pelakunya.

"Yang jelas proses masih berjalan. Jadi belum ada proses penangkapan," kata Boy.

Salah satu bukti yang dimiliki polisi, yakni foto yang sempat diambil Novel saat merasa dibuntuti seseorang.

Namun, foto tersebut juga tidak bisa memperkuat tuduhan bahwa orang itu pelakunya. Bukti lain yang dimiliki, yakni rekaman kamera CCTV yang terpasang di rumah Novel.

Namun, tayangan video itu tidak menunjukkan pelakunya secara jelas. Hal itu dikarenakan jarak rumah Novel dengan tempat kejadian agak jauh dari jangkauan CCTV.

Masalah lain, peristiwa terjadi saat matahari belum muncul sempurna.

Boy membandingkannya dengan rekaman CCTV di Pulomas, di mana terjadi pembunuhan satu keluarga.

"Peristiwa Pulomas di situ ada giat anggota satu keluarga di mana CCTV sangat jelas, mempelajari gerak-gerik pelakunya agak pincang. Itu memang diuntungkan," kata Boy.

Polisi saat ini hanya mengandalkan keterangan para saksi yang merupakan para tetangga Novel.

Mereka sempat beberapa kali melihat orang mencurigakan mondar mandir dengan sepeda motor di sekitar rumah Novel.

"Yang jelas dari pemeriksaan saksi dan olah TKP di jalan itu cukup. Infonya cukup," kata Boy.

Aktivis Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Muhammad Isnur menganggap polisi lamban dalam menyelidiki kasus Novel.

Ia mengatakan, sudah banyak bukti yang dikantungi polisi, mulai dari keterangan saksi hingga rekaman CCTV. Semestinya, polisi tidak sulit mengungkap kasus tersebut.

"Maka jadi pertanyaan kita bersama kenapa lambat? Padahal Jokowi dan Kapolri sudah memerintahkan dengan tegas untuk segera diungkap pelaku dan auktor intelektualis di belakangnya," kata Isnur.

Isnur mencontohkan kasus penganiayaan yang dialami aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama S Langkun yang dibacok beberapa orang tak dikenal pada Juli 2010.

Hingga saat ini, kasus itu menguap dan belum terungkap siapa pelakunya.

"Jika berlarut-larut dan sama seperti kasus Tama, semakin besar kecurigaan masyarakat bahwa ada sesuatu di balik penyiraman Novel dan berhubungan dengan kekuasaan yang besar," kata Isnur.***kps/mpc/bs

Dibaca 30 Kali