Di Hadapan Wapres, Gubsu Ceritakan Kerukunan Islam-Kristen di Barus

Sibolga(MedanPunya) Wakil Presiden Ma’ruf Amin menghadiri kegiatan Barus Bersholawat untuk Indonesia yang diselenggarakan di Barus, Tapanuli Tengah , Sumatera Utara. Dalam acara, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menceritakan bagaimana kerukunan beragama di wilayah tersebut.

Awalnya Edy menceritakan sejarah peradaban Islam yang ada di Barus. Dia menyebut, di wilayah itu dulunya datang tokoh-tokoh agama dari Yaman untuk menyebarkan Islam.

“Kami izin melaporkan, dari guru-guru saya bercerita bahwa Barus ini adalah peradaban agama. (Tahun) 664 masehi ada tokoh-tokoh Islam yang datang dari Yaman, dari Timur Tengah khususnya ke Barus ini, dan bahkan kita tahu 664 masehi itu di batu nisan bahwa beliau wafat, ada yang dimakamkan di Papan Tinggi, ada yang dimakamkan di makam Maligai,” kata Edy saat acara seperti dikutip dari YouTube Sekretariat Wakil Presiden, Rabu (15/2).

Jika dikaitkan dengan penjelasan Buya Hamka soal masuknya Islam ke Indonesia di abad ke-7, kata Edy, maka benar lah Islam pertama sekali masuk ke Indonesia itu melalui Barus. Namun, sebut Edy, hal ini masih dalam kajian. “Sedang disusun dan sedang dicari napak tilas untuk mencari kebenaran ini,” sebutnya.

Kemudian, Edy mengatakan jika bukan hanya tokoh-tokoh Islam saja yang ada di Barus saat itu. L.I Nommensen yang merupakan misionaris dari Jerman juga datang ke Barus untuk menyebarkan agama Kristen.

Edy mengatakan jika saat itu Nommensen sempat bertemu dengan tokoh Islam di Barus yaitu Syekh Mahmud. Dia menjelaskan jika di Barus saat itu tidak ada persoalan yang terjadi ketika Nommensen datang, meski penyebaran agama Islam sedang dilakukan oleh Syekh Mahmud.

“Sehingga Nommensen, ini lah hebatnya kita Bapak di Sumatera Utara ini, khususnya di Tapanuli Tengah, toleransi sejak dulu sudah terjadi. Nommensen mindah, bertempat dan akhirnya mendirikan Salib Kasih di Tarutung. Sehingga berjajar lah agama ini, dan dari dulu kami tidak pernah ada persoalan kerukunan beragama ini,” jelasnya.

Edy mengatakan kerukunan itu terus berlangsung saat ini. Jika ada yang menyebut ada konflik agama di Barus, kata Edy, itu tidak benar dan pasti bukan disampaikan oleh orang Sumatera Utara.***dtc/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version