Jum'at, 22 Jun 2018

Bocah 12 Tahun Ini Terpaksa Putus Sekolah Demi Menyekolahkan Adiknya

Rabu, 14 Maret 2018 15:09
Beri Rating Berita Ini
(0 votes)

Medan(MedanPunya) Mengenakan kaos abu-abu, AI (12) tampak memasak air dengan menggunakan kayu bakar di belakang rumah gubuknya di Dusun 3, Bandar Dolok, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (14/3).

AI saban hari harus menjalani berbagai pekerjaan untuk meringankan beban ibunya, Erni, yang sudah menjanda beberapa tahun lalu.

Bahkan AI harus putus sekolah setahun yang lalu, saat duduk dibangku kelas 3 SD.

 AI mengaku sangat pengin bisa bersekolah seperti teman-temannya. Namun apa dayanya, dia harus menyerah kepada keadaan ekonomi yang membelit keluarganya.

"Mau sekolah bang. Tapi tak bisa," ujarnya seraya menyeka wajahnya.

Erni ibu Al, saat bertemu wartawan tengah menganyam daun rumbia untuk atap rumah. Pekerjaan menganyam rumbia ini dia lakoni demi menambah pemasukan pendapatan keluarganya. "Beginilah pak, biar ada uang beli beras," ujarnya.

Rumah yang ditinggali Erni dan ke empat anaknya, tak pantas disebut rumah, lebih pantas disebut gubuk derita, dingdingnya terbuat dari tepas bambu, dan atapnya dari daun rumbia, dan peneranganya menggunakan lampu teplok.

Keluarga ini pun menggunakan saluran irigasi, untuk kebutuhan mencuci dan mandi, dan menumpang kepada orang lain untuk mendapatkan air bersih.

Erni bercerita bahwa anaknya memang sengaja dia minta tidak bersekolah lagi, demi membantunya mencari nafkah, apalagi AI memiliki tiga adek yang harus bersekolah.

"Dia berhenti. Biar ada bantu saya. Adeknya ada tiga lagi yang sekolah. Kalau dia sekolah, tidak sanggup lagi saya sendiri. Biar lah dia yang tidak sekolah, biar adek-adeknya tidak putus sekolah," ujar Erni.

Erni menyadari betul, anaknya AI, akan bodoh karena tidak bersekolah, tapi ada daya dia, semenjak dia ditinggal suaminya, dia tak sanggup lagi, meski dia sudah harus pontang-panting mencari nafkah. "Terpaksa ini," tuturnya.

Sepanjang hari, kata Erni,  Al membantunya untuk memanen padi orang dengan upah 10 Kg beras per hari, bekerja di kilang batu dengan upah Rp 150 ribu perhari, dan mencuci pakaian orang-orang dengan upah tidak menentu.

"Apapun kami kerjakan, yang penting halal pak," ujarnya.

Di tengah getirnya kehidupan keluarga ini, tidak membuat semangat belajar anak-anak Erni yang masih bersekolah sirna, ditengah minimnya penerangan mereka tetap tidak lupa belajar.

"Kalau malam, mereka belajar pakai lampu teplok, senang saya liat mereka belajar," tutur Erni.***trb/mpc/bs













Dibaca 116 Kali