cache/resized/ebd1204bf289bfc3ecb923dc34edb77d.jpg
Kuala Lumpur(MedanPunya) Saat Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengumumkan daftar ...
cache/resized/4b58a38fdcca9a594c83be1e8a19081b.jpg
Riyadh(MedanPunya) Sebuah laporan merebak bahwa penasihat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran ...
cache/resized/e76a786f47a2f13b6459e30c03d9ce01.jpg
Jakarta(MedanPunya) Institute for Criminal and Justice Reform ( ICJR) mempertanyakan pemenuhan ...

Pematangsiantar(MedanPunya) Nenek Hilderia kini sudah bisa melangkah keluar dari rumahnya yang terletak di Jl Pabrik Kertas, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar.

Letaknya persis di belakang Asrama Polisi (Aspol) Polres Simalungun.

Pernyataan ini disampaikan langsung Polres Simalungun dari akun instagram.

"Selamat pagi sahabat IG. Kini jalan ke rumah Ibu (Nenek) Hilderia sudah ada jalan. Saat ini ke rumah ibu tersebut dalam kondisi sudah dibuka. Salam," tulis akun instagram @polres_simalungun.

Selain rumah Nenek Hilderia, di lokasi ini juga terdapat satu unit rumah lain yang dihuni oleh Sondang Julu Hutagalung (45) dan Elsa Purba (13).

Mereka adalah anak dan cucu Nenek Hilderia.

Diberitakan sebelumnya, sejak awal pekan minggu keempat November 2018, ketiga orang ini hidup bagai terkurung.

Akses keluar-masuk bagi mereka tertutup setelah pihak Aspol membangun tembok setinggi kira-kira satu setengah meter.

Agar bisa keluar, mereka harus memanjat tembok. Caranya, memanjat satu meja yang diletakkan di sisi dalam, kemudian turun lewat tangga yang disandarkan di sisi lain tembok.

Lantaran merasa tidak kuat, Nenek Hilderia tak pernah keluar rumah sejak tembok berdiri.

"Saya sudah tua. Kalau kira-kira memanjat tembok itu, apakah kuat, rasa-rasanya saya tidak sanggup. Jadi di rumah saja. Anak sama cucu saya yang terpaksa harus memanjat," katanya.

Dua alasan dikemukakan polisi terkait pembangunan tembok ini, yakni keamanan dan penyerobotan aset.

Kapolres Simalungun, AKBP Marudut, menyebut pihaknya sudah tiga kali menyurati keluarga Nenek Hilderia untuk melakukan pengosongan.

"Memang saya yang perintahkan untuk ditembok. Saat sudah mau dipagari, ibu itu bermohon, dengan alasan, rumahnya belum ada. Saya beri toleransi, tapi sampai batas ditentukan belum juga pindah. Kemudian saya kasih keringanan lagi. Tetap belum pindah. Kalau begini, kan, terus mundur-mundur, akhirnya, ya, kita tegas," kata kapolres.

Pihak Nenek Hilderia sempat menampik, dan menyebut tanah di mana rumah berdiri bukan merupakan aset polisi.

Menurut Nenek Hilderia, suaminya Panusunan Hutagalung membeli tanah ini pada tahun 1988 dari keluarga Ranan Sinaga.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 35 kali