cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Kabanjahe(MedanPunya) Tanaman kubis atau kol yang berasal dari pertanian di Kabupaten Tanah Karo, sudah menjadi salah satu komoditas unggulan.

Bahkan, beberapa waktu lalu diketahui tanaman ini sempat diekspor ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.

Namun, diketahui saat ini harga jual kubis banyak dikeluhkan oleh petani. Pasalnya, sejak beberapa waktu terakhir, harga jual di pasaran mengalami penurunan.

Bahkan, anjloknya harga sayur tersebut hingga mencapai 50 persen.

Seorang petani kubis Saiman Tarigan, mengungkapkan penurunan harga ini sudah berlangsung sejak satu bulan setengah.

Dirinya menyebutkan, saat ini harga jual dari kebun hanya berkisar 500 hingga 700 rupiah perkilo. Padahal, biasanya pada saat harga normal, kubis dapat dijual seharga 1000 hingga 1.500 rupiah perkilonya.

"Turun kali sekarang harganya ini, masih ambil di ladang aja paling tinggi itu 700 rupiah. Belum lagi kalau antar ke pekan atau ke pasar, tambah lagi ongkos minyak," ujar Saiman, saat ditemui di perladangannya, di Desa Rumah Kabanjahe, Rabu (27/3).

Saiman mengaku, dengan harga yang terbilang rendah ini dirinya tentunya merugi dan tidak bisa menutupi biaya untuk tanam pasca panen.

Sedangkan yang dari hasil panen, dirinya menyebutkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan Sehari hari.

Saiman mengatakan, biaya untuk proses tanam kembali berkisar di angka 700 rupiah setiap satu batang.

Angka tersebut, belum termasuk biaya tambahan seperti pupuk, dan upah para pekerja.

"Kalau harga segini, pas nanti tanam lagi terpaksa harus cari pinjaman. Karena kita jual lah ini, ya sudah habis untuk makan, apalagi pas nanti tanam lagi, kan enggak mungkin kita enggak makan, tambah lagi untuk aron (pekerja)," ungkapnya.

Selain biaya tanam, Saiman menyebutkan dengan harga saat ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kualitas kubis pada panen. Pasalnya, uang yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan kualitas dan ukuran yang baik saat pemeliharaan terbilang cukup besar.

"Kalau harga 1.500 kita mau mupuknya juga enggak tanggung-tanggung, jadi ukuran juga bisa makin besar. Tapi kalau gini murah, takut kita mupuknya, mau bikin dua kilopun payah," ucapnya.

Meskipun harga terbilang rendah, dirinya menyebutkan pihaknya terpaksa tetap memanen kubis tersebut. Selain karena takut nantinya kubis akan menjadi busuk, tentunya untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Selain kubis, ternyata komoditas lain yang juga mengalami keanjlokan harga turut terjadi pada tanaman terong. Saiman mengaku, untuk terong saat ini harga di pasaran sudah hampir serupa dengan harga kubis.

Meskipun biaya yang dikeluarkan tidak sebesar kubis, namun tetap saja dengan harga yang anjlok itu menjadikannya dengan petani lain menjerit.***trb/mpc/bs




  • 0 komentar
  • Baca 41 kali