cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Pematangsiantar(MedanPunya) Kepala Dinas Pariwisata Kota Pematangsiantar Kusdianto menanggapi tentang keluhan penggiat seni terhadap pemakaian lapangan pariwisata di depan Gedung Tourism Information Center (TIC).

Kusdianto menjelaskan lapangan pariwisata memiliki wewenang sesuai peraturan Walikota (Perwa) untuk menarik restribusi bagi pengguna lapangan.

Ia mengatakan sesuai dengan Perwa setiap kegiatan yang bersifat sosial, kesenian, dan kebudayaan wajib menyetor Rp 500 ribu per hari.

"Makanya kutunjukkan retribusinya. Ada ketentuannya. Ada Perwanya. Perhari 500 ribu," ujarnya, Kamis (23/5).

Saat disinggung tentang statetmen Walikota Siantar Hefriansyah yang memberikan kebebasan bagi komunitas kreatif untuk menggunakan lapangan pariwisata di depan publik, Kusdianto membantah hal tersebut.

Ia menilai ada kekurangan paham Walikota Siantar terhadap regulasi penggunaan lapangan pariwisata.

"Kita kan punya target 40 juta selama satu tahun. Itu kan beliau (Hefriansyah). Dasar kami kan itu (Perwa). Kami kan ada pertanggungjawaban setahun sekali. Kalau ada pertemuan nanti kami dipertanyakan PAD gak tercapai. Gak paham dia (Hefriansyah). Mungkin ya. Kalian tahu sendirilah. Yang tahu teknisnya kami sendiri," katanya.

Penggiat Seni dan Kebudayaan di Kota Pematangsiantar Tuppak Hutabarat menilai pemerintah masih belum terbuka terhadap para penggiat seni.

Dengan aturan ini, kata Tuppak para komunitas jadi bisa tahu langkah-langkah jika untuk membuat acara di lapangan pariwisata.

Penggiat komunitas Siantar Kreatif ini berharap pemerintah mau duduk bersama dengan para penggiat seni dan kebudayaan untuk menyusun program event.

"Padahal kita mencoba untuk membangkitkan gairah pariwisata di Kota Siantar. Kota Siantar sudah ketinggalan dengan daerah-daerah lain seperti Samosir dan Tobasa yang memikiki kalender pariwisata,"ujarnya.

Tuppak yang dikenal dengan sebutan 'Siparjalang' ini mengatakan kreatifitas anak muda di Kota Siantar cukup tinggi. Namun, banyak sekali kendala dan tidak adanya dukungan dari pemerintah daerah.

Ia juga kecewa tentang statetmen Walikota Siantar Hefriansyah saat membuka kegiatan pameran lukisan pada acara HUT Kota Siantar pada 24 April 2019.

Pada saat itu, Hefriansyah memberikan kebebasan terhadap komunitas kreatif untuk berkegiatan di Lapangan Pariwisata di Jalan Merdeka Kota Pematangsiantar.

Sedikit kutipan Hefriansyah saat memberikan kebebasan terhadap penggiat seni menggunakan lapangan pariwisata.

"Adek-adekku dan sahabat-sahabatku. Jangan khawaitr samaku. Kubangun podium dan pentas ini minimal satu bulan satu kali atau dua minggu sekali (membuat kegiatan kesenian). Sudah kuanggarkan di pariwisata. Supaya kalian tampil berkreasi. Jadi jangan khawatir pada saya. Ini ada juga kubangun ini, supaya kalian tampil berkreasi. Bicara kurator dan fasilitator aku siap. Bicara pendanaan sama-sama kita," ujarnya saat itu.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 114 kali