cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Parapat(MedanPunya) Pada akhir tahun 2019, seorang pemancing mendapatkan ikan bawal air tawar besar dengan berat 13 kilogram dari Danau Toba.

Ikan predator ini ditemukan saat memancing di tepi Danau Toba Simalungun. Penemuan ini sontak menjadi viral dengan dugaan pemangsa ikan pora-pora. Ikan ini diduga yang mengakibatkan populasi ikan pora-pora menurun drastis.

Penemuan ikan pemangsa ikan kecil ini telah berkali-kali ditemukan pemancing.

Menanggapi hal ini, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia Danau Toba (DPD PNTI) Karmel Sitanggang mengungkapkan sekitar tiga tahun lalu pernah melihat orang dari kapal motor menabur ikan bawal. Ia memprediksi ikan yang disebarkan itu masing-masing seberat 500 gram.

Sitanggang mengatakan sempat mengejar kapal motor itu. Namun, sampan kayu yang digunakan tidak mampu mengejar laju pelaku.

Tak berapa lama, Sitanggang bersama dengan teman sesama nelayan berhasil menangkap dua ekor ikan bawal.

"Sekitar tiga tahun lalu memang pernah saya lihat ada orang luar Danau Toba menyebar ikan bawal di sana. Aku coba kejar, tapi gak mampu. Namanya, aku hanya naik solu (sampan kayu)," katanya.

Karmel mengaku memang ada penurunan drastis populasi ikan pora-pora. Ia menyebutkan nelayan sudah jarang menemukan ikan yang disebar oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada masa Presiden Megawati tahun 2003.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan penurunan itu yakni faktor kualitas air dan keberadaan ikan predator.

"Kalau menurun populasi ikan pora-pora bisa disebabkan karena air Danau Toba kan memang sudah tidak bersih lagi. Pernah dulu diuji air Danau Toba memang sudah sangat kotor. Lalu, ditambah lagi dengan adanya ikan predator," ujarnya.

Karmel meniali selama ini memang kurang pengawasan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Utara.

Bahkan, ia pernah melaporkan kejadian ini ke patroli pengawasan DKP Sumut. Ia berharap juga menggandeng kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) yang memantau tentang perikanan.

"Agar dinas DKP lebih ketat lagi untuk mengawasi penebaran benih ikan secara ilegal atau menebar secara sembarang. Patroli pengawasan harus rutin agar dapat dicegah sebisa mungkin," ujarnya.

Karmel menyebutkan sudah ada berbagai ikan predator air tawar berada di Danau Toba. Ia berharap dinas terkait lebih intens memantau populasi ikan di Danau Toba.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 777 kali