cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...
cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...

Medan(MedanPunya) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) mempertanyakan kinerja aparat keamanan dan pemerintah Kabupaten Madina yang tidak melakukan pengawasan ketat terhadap penjualbelian zat kimia Merkuri.

Menurut WALHI, Merkuri ini dilarang untuk digunakan tanpa ada izinnya, Rabu (15/1).

"Kok diperjualbeliankan Merkuri ini bisa bebas di Madina. Merkuri itu sebenarnya di larang kenapa bisa digunakan," kata Direktur WALHI Sumut, Dana Tarigan.

Ia memastikan, warga yang beraktivitas sebagai penambang pastinya menggunakan merkuri untuk dapat menghasilkan emas.

Lantaran dampak penggunaan zat kimia berbahaya ini sudah kelihatan, di mana enam bayi lahir dalam keadaan yang tidak wajar.

"Penambang itu pasti menggunakan merkuri untuk mendapatkan emas. Buat kita sama saja, tambang rakyat dan perusahaan pasti memakai merkuri. Karena dampaknya sudah kelihatan," ucapnya.

Dana mengatakan, seharusnya aparat keamanan sudah bisa mempublikasikan apa hasil penyelidikan yang dilakukan terhadap kasus ini.

Kemudian, penutupan secara paksa tambang-tambang ilegal yang ada di sana, menurutnya tidak efektif.

Karena aparat keamanan tidak berani mengusut secara tuntas, siapa pelaku yang memperjualbelikan Merkuri ini kepada masyarakat.

"Apa hasil penyelidikan itu. Menghentikan aktivitas pertambangan itu saja tidak efektif, lantaran tidak mengusut tuntas masalah penjualbelian Merkuri. Jangan hanya menutup, siapa pemain merkuri ini harus ditangkap, jangan seperti ini," ungkapnya.

Sebagai aktivis pengamat lingkungan, ia memastikan bahwa sungai yang ada di Madina sudah tercemar dengan Merkuri.

"Penggunaan merkuri ini sudah pasti menyebabkan kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang ada disekitaan sana," jelasnya.

Dirinya juga kecewa dengan kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang tidak melakukan penelitian terhadap kualitas air sungai.

Menurutnya, DLH sudah harus mengumumkan bagaimana kualitas air sungai yang terkontaminasi dengan Merkuri itu.

Apakah masih layak dikonsumsi oleh masyarakat atau tidak.

Sebab, jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya penanganan, kemungkinan korban jiwa akan bertambah.

"DLH sendiri tidak memberikan keterangan terhadap kualitas sungai yang ada di sana. Sebab, sengaja dibiarkan begitu saja. Apakah masih steril sungai itu atau tidak. Lakukan pengecekan dan umumkan dong kepada publik bagaimana sudah tercemar daerah sana," ucapnya.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 8 kali