cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Vatican City(MedanPunya) Vatikan kini menantikan undangan resmi dari Korea Utara, menyusul permintaan Kim Jong Un yang ingin agar Paus Fransiskus mengunjungi Pyongyang. Permintaan pemimpin Korea Utara itu disampaikan kepada Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada pertemuan keduanya bulan lalu.

"Vatikan hanya menunggu undangan untuk kunjungan secara resmi," kata juru bicara Tahta Suci Vatikan Greg Burke.

Dia mengaku belum bisa mengomentari terkait rencana Moon berkunjung ke Vatikan pada pekan depan.

Moon dijadwalkan berada di Perancis dan Italia pada 13-18 Oktober 2018 dan Vatikan pada 17-18 Oktober 2018. Saat berada di Vatikan, Moon akan bertemu dengan Paus Fransiskus pada Kamis (18/10) siang.

Selama pertemuan itu, dia berencana untuk menyampaikan pesan Kim terkait kesediaan pemimpin Korut itu mengundang paus ke Pyongyang.

Para analis dan pejabat Vatikan meyakini, kunjungan Paus Fransiskus ke Korea Utara dapat berkontribusi pada meluasnya dukungan masyarakat internasional bagi perdamaian di Semenanjung Korea.

Seorang pejabat Vatikan menyatakan, paus sangat populer di kalangan liberal Amerika yang kritis terhadap negosiasi denuklirisasi antara Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong Un.

"Kunjungan ke Korea Utara oleh paus dapat membawa perubahan besar terhadap opini publik AS, yang pada akhirnya akan memengaruhi negosiasi perdamaian Semenanjung Korea," ujar pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Sebelumnya, Moon datang ke ibu kota Korut dengan ditemani Uskup Agung Korsel Hyginus Kim Hee-jong. Dalam pertemuan, Kim mendesak Uskup Hyginus agar Vatikan tahu dia berniat membangun perdamaian.

Sebagai informasi, kegiatan keagamaan diawasi secara ketat di Korut, dan bisa dilarang jika tak sesuai peraturan. Awal abad ke-20 sebelum adanya pembagian dua Korea, Pyongyang adalah pusat penyebaran agama Kristen, dan dijuluki Yerusalem dari Timur.

Namun pendiri Korut Kim Il Sung melihat agama Kristen merupakan ancaman bagi pemerintahannya, dan berusaha membasminya dengan eksekusi dan kerja paksa.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 151 kali