cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...
cache/resized/2011b1049d0c18fe2b9110914ddd5daa.jpg
Idlib(MedanPunya) Anggota Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) dilaporkan dijejer di jalan dan ...
cache/resized/b46cee9fe2241df9f4fc9f8325866285.jpg
Washington(MedanPunya) Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard, ...

Washington(MedanPunya) PBB menyebut ada lebih dari 7.000 orang kini sedang menuju Amerika Serikat, dengan lebih banyak migran yang akan bergabung termasuk warga Amerika Tengah di Meksiko.

Presiden AS Donald Trump akan mulai memangkas bantuan kepada tiga negara Amerika Tengah atas masuknya ribuan migran Honduras ke perbatasan AS.

Trump terus melontarkan serangan di Twitter hampir tiap hari dengan menyebutnya sebagai darurat nasional. Dia juga mengancam bakal mengerah militer guna menutup perbatasan dengan Meksiko.

"Kami sekarang akan mulai memangkas, atau secara substansial mengurangi, bantuan luar negeri besar-besaran," katanya.

Ucapannya merujuk pada bantuan AS kepada Guatemala, Honduras, dan El Salvador. "Menyedihkan, sepertinya polisi dan militer Meksiko tidak dapat menghentikan caravan migran menuju perbatasan selatan AS," ucapnya.

Bantuan AS ke Amerika Tengah telah menurun. Pada 2016, bantuan dikucurkan senilai 750 juta dollar AS menjadi 655 juta dollar pada 2017.

Tahun ini, bantuan diperkirakan turun lagi menjadi 615 juta dollar AS. Gelontoran dana semacam itu menjadi penting bagi negara seperti Honduras, yang menerima 181,7 juta dollar AS pada tahun lalu.

Sebelumnya, otoritas Meksiko berhasil mencegat para migran di perbatasan Meksiko-Guatemala usai mereka berhasi menerobos penghalang di Guatemala pada Jumat lalu. Namun, banyak migran yang berhasil menyeberangi sungai dengan rakit darurat.

Karavan migran kembali melanjutkan perjalanannya pada Senin (22/10) di negara bagian Chiapas di Meksiko Selatan. Mereka berangkat dari Tapachula, dekat perbatasan, menuju kota Huixtla, sekitar 40 km jauhnya.

Banyak migran menghabiskan malam di alun-alun kota atau di jalan. Mereka bergerak dengan jalan kaki atau menumpang mobil dan truk yang lewat. Banyak juga yang berjalan kaki dengan sepatu plastik atau sandal jepit.

Aktivis menyatakan, perjalanan sejauh 3.000 km melalui Meksiko butuh waktu sekitar satu bulan.

"Kami takut dengan polisi yang bisa menahan kami. Tapi jika mereka mendeportasi kami, kami akan terus mencoba lagi," kata Noemi Bobadilla, seorang tukang bersih-bersih dari San Pedro Sula, Honduras.

Dia mengaku sudah berjalan kaki selama 13 hari, bersama seorang teman dan bayinya.

"Kami sangat sadar, negara ini (Meksiko) tidak menerima kami seperti yang diharapkan, dan mereka dapat memulangkan kami ke Honduras," ucapnya.

"Kami juga tahu ada penyelundup obat-obatan yang dapat menculik dan membunuh para migran," ujar Juan Flores, seorang migran lainnya.

"Tapi kami hidup dengan lebih banyak ketakutan di negara kami, jadi kami terus lanjut," imbuhnya.

Karavan migran meninggalkan San Pedro Sula di Honduras utara sekitar lebih dari sepekan lalu. Banyak migran yang melarikan diri dari kemiskinan dan bahaya di Honduras, dengan banyaknya kelompok jalanan yang menguasai wilayah mereka dengan kekerasan brutal.

Dengan tingkat pembunuhan 43 orang per 100.000 penduduk, Honduras merupakan salah satu negara paling keras di dunia.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 119 kali