cache/resized/4b58a38fdcca9a594c83be1e8a19081b.jpg
Riyadh(MedanPunya) Sebuah laporan merebak bahwa penasihat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran ...
cache/resized/e76a786f47a2f13b6459e30c03d9ce01.jpg
Jakarta(MedanPunya) Institute for Criminal and Justice Reform ( ICJR) mempertanyakan pemenuhan ...
cache/resized/82b6617f94ea680115c3ba247773a2d5.jpg
New York(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kritikan kepada ...

Washington(MedanPunya) Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk membangun pusat penahanan migran. Kabar yang diungkapkan sumber militer AS itu terjadi setelah ribuan migran bergerak ke perbatasan Meksiko.

Dalam kampanyenya jelang Pemilihan Umum Sela Selasa (6/11), Trump berkata kepada para pendukung Partai Republik bahwa para migran tengah melakukan invasi.

Pekan lalu, militer mengumumkan telah mengerahkan 7.000 tentara ke perbatasan Meksiko di mana diperkiran ada 5.000 migran menuju ke sana. Kementerian Dalam Negeri Meksiko menyatakan, para migran itu berasal dari Honduras, El Salvador, dan Guatemala.

Mereka bergerak dengan karavan atau kelompok kecil. Pasukan itu dikerahkan dalam misi bernama Operation Faithful Patriot untuk memberikan dukungan bagi 2.000 orang Garda Nasional yang lebih dulu ditempatkan.

Ketika berkampanye di Cleveland, Trump menyalahkan Partai Demokrat selaku oposisi karena telah memberikan jalan bagi migran ilegal. Karena imigrasi merupakan isu utama dalam pemilu sela tahun ini, Trump mengklaim Demokrat ingin memanfaatkannya dengan menciptakan kekacauan di perbatasan.

Presiden berusia 72 tahun itu menuturkan bakal migran yang datang bakal semakin banyak.

"Saat ini kami telah memulai proses pembangunan tembok. Kami tak bakal membiarkan mereka lewat," tegasnya.

Pekan lalu, Trump mengancam bakal menembak jika migran melakukan aksi seperti melemparkan batu ke arah pasukan perbatasan.

"Pertimbangkan (batu) itu sebagai senapan. Ketika mereka melempar batu seperti yang dilakukan ke polisi perbatasan Meksiko, pertimbangkan itu sebagai senapan," ujarnya.

Presiden ke-45 dalam sejarah Negara "Uncle Sam" itu lalu mengklarifikasi ucapannya dengan berujar migran yang melakukan provokasi bakal ditahan. Ribuan migran itu bergerak menuju Mexico City.

Ada yang berjalan kaki atau menumpang kendaraan selama tiga pekan terakhir. Beberapa di antara migran itu ada yang merupakan anggota sebuah geng kriminal maupun mempunyai kesulitan finansial di negara asal.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 22 kali