cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...
cache/resized/2011b1049d0c18fe2b9110914ddd5daa.jpg
Idlib(MedanPunya) Anggota Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) dilaporkan dijejer di jalan dan ...
cache/resized/b46cee9fe2241df9f4fc9f8325866285.jpg
Washington(MedanPunya) Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard, ...

Ottawa(MedanPunya) Duta Besar China menuduh pemerintah Kanada dan sekutu-sekutunya mempraktikkan 'egotisme Barat dan supremasi kulit putih' karena menuntut pembebasan segera dua warga Kanada yang ditahan China, namun mengabaikan penangkapan warga China petinggi Huawei.

Dalam surat yang dirilis surat kabar Kanada, The Hill Times, Duta Besar China untuk Kanada, Lu Shaye, juga mengkritik penahanan 'tak beralasan' terhadap petinggi perusahaan telekomunikasi ternama China, Huawei, atas permintaan Amerika Serikat (AS).

Diketahui bahwa dua warga Kanada, Michael Kovrig yang mantan diplomat dan Michael Spavor yang seorang pengusaha, ditahan di China sejak bulan lalu. Keduanya dituduh melakukan aktivitas yang dianggap 'membahayakan keamanan nasional' -- istilah yang biasa digunakan China untuk menyebut praktik spionase.

Penahanan kedua warga Kanada itu dinilai sebagai balasan atas penangkapan Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) perusahaan telekomunikasi China, Huawei Technologies Co Ltd, di Vancouver pada 1 Desember 2018. Meng ditangkap atas dugaan pidana terkait pelanggaran sanksi Iran yang diberlakukan AS. Jaksa AS menuduh Meng menyesatkan sejumlah bank soal transaksi terkait Iran, sehingga menempatkan bank-bank itu pada risiko melanggar sanksi-sanksi AS.

"Bisa dipahami bahwa Kanada khawatir soal warga negara mereka. Tapi apakah mereka menunjukkan kekhawatiran atau simpati bagi Meng setelah dia ditahan secara ilegal dan direnggut kebebasannya?" tulis Dubes Lu dalam suratnya yang dilansir The Hill Times tersebut.

"Tampaknya, bagi beberapa orang, hanya warga-warga Kanada yang akan diperlakukan secara manusiawi dan kebebasan mereka dianggap berharga, sementara warga China tidak pantas atas hal itu," imbuhnya.

"Alasan mengapa beberapa orang secara arogan biasa memakai standar ganda adalah karena egotisme Barat dan supremasi kulit putih," tegas Dubes Lu.

Pada Senin (7/1) lalu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden AS Donald Trump berbicara via telepon untuk membahas penahanan dua warga Kanada di China itu. "Kedua pemimpin sepakat melanjutkan upaya pembebasan mereka (dua warga Kanada-red)," demikian pernyataan kantor PM Kanada.

Selain AS, diketahui bahwa Australia, Inggris, Prancis, Jepang, Jerman dan Uni Eropa telah menyampaikan dukungan untuk Kanada terkait isu tersebut.

Sementara itu, setelah ditangkap pada 1 Desember 2018, Meng dibebaskan otoritas Kanada usai membayar jaminan CAN$ 10 juta. Saat ini Meng tinggal di sebuah rumah mewah di Vancouver, Kanada sembari menunggu proses persidangan ekstradisi terhadapnya yang masih berlanjut.

Selama berada di Kanada, Meng diwajibkan memakai gelang kaki elektronik untuk memantau pergerakannya. Dia juga dilarang keluar rumah pada pukul 23.00 malam hingga pukul 07.00 pagi setiap harinya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 35 kali