cache/resized/b46cee9fe2241df9f4fc9f8325866285.jpg
Washington(MedanPunya) Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard, ...
cache/resized/463ce84142a875d95831164ce57c0a99.jpg
Washington(MedanPunya) Dalam pidato kenegaraan atau State of Union, Presiden Amerika Serikat Donald ...
cache/resized/5d06ffba665f06f992039bd0f2e37cd1.jpg
Lubukpakam(MedanPunya) Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi melakukan kunjungan kerja ke ...

Washington(MedanPunya) Dalam pidato kenegaraan atau State of Union, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap rencananya bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Trump mengatakan, pertemuan kali kedua dengan Kim akan berlangsung selama dua hari di Vietnam pada 27-28 Februari 2019. Di sisi lain, pria berusia 72 tahun itu juga menyombongkan diri atas upayanya yang berhasil bertemu Kim.

"Jika saya tidak terpilih sebagai Presiden AS, menurut pendapat saya, kita saat ini berada dalam perang besar dengan Korea Utara yang berpotensi membunuh jutaan orang," katanya, Selasa (5/2) malam waktu setempat.

Sebagai informasi, Vietnam merupakan salah satu dari sedikit negara yang memiliki hubungan baik dengan Korea Utara. Hubungan diplomatik kedua negara tersebut dimulai sejak 1950 saat Korut mengirim personel angkatan udara selama Perang Vietnam.

Sementara itu, Trump dan Kim pernah bertemu di Singapura pada Juni 2018. Di sana, mereka sepakat soal kerangka kerja untuk negosiasi ke depan.

Kesepakatan tersebut termasuk Korea Utara akan mulai bekerja untuk menuju langkah denuklirisasi penuh.

Namun, sejak saat itu, berbagai laporan dan pejabat intelijen mengklaim Korut terus memperkuat senjata nuklirnya secara diam-diam. Bahkan yang terbaru, laporan panel ahli PBB menyebutkan negara tersebut masih mengembangkan nuklir dan rudal balistik dengan memanfaatkan bandara dan fasilitas lainnya.

"Panel menemukan, DPRK menggunakan fasilitas sipil termasuk bandara untuk perakitan dan pengujian rudal balistik dengan tujuan mencegah serangan 'pemenggalan' secara efektif," tulis laporan tersebut.

Panel juga menemukan, pelabuhan dan bandara digunakan sebagai fasilitas penyelundupan uang tunai besar-besaran oleh warga Korea Utara.

Selain itu, Korea Utara juga berusaha memasok senjata ringan ke Suriah, pemberontak Houthi di Yaman, Libya, dan Sudan.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 50 kali