cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Ouagadougou(MedanPunya) Tumpukan meja dan kursi teronggok di sudut sebuah ruang kelas yang kosong tanpa satu pun siswa. Sementara di papan tulis terpampang tanggal 15 Desember 2018.

Artinya hampir empat bulan ruang kelas itu kosong melompong. Kepala sekolah yang terletak di luar kota Foube, di wilayah Burkina Faso, telah ditutup setelah diserang kelompok bersenjata.

"Banyak sekolah dibakar. Guru diserang dan beberapa dibunuh. Saat serangan terjadi sebagian staf saya melarikan diri," kata Samuel Sawadogo menjelaskan.

"Saat seorang guru tewas dibunuh, tak ada yang membela, jadi kami menyelamatkan diri sendiri," tambah Samuel.

Di tiga kawasan yang terdampak kekerasan di Burkina Faso, 1.111 dari 2.869 sekolah telah ditutup dalam beberapa bulan terakhir. Ketiga kawasan itu adalah wilayah Utara, Sahel, dan wilayah Timur. Semua wilaah ini berada di sisi utara Burkina Faso dan berbatasan langsung dengan Mali dan Niger.

Di kedua negara tersebuk kelompok militan sudah beroperasi selama beberapa tahun. Di provinsi Soum, wilayah Sahel, sebanyak 352 sekolah kini tak beroperasi lagi.

Akibatnya, sebanyak lebih dari 150.000 anak usia sekolah tedampak. Angka ini teramat besar di sebuah negeri yang masih mengalami masalah di sektor pendidikannya.

Pada 2016, hanya sebanyak 57,9 persen anak-anak Burkina Faso lulus dari jenjang sekolah dasar.

Samuel Sawadogo mengatakan, aparat keamanan Burkina Faso gagal melindungi masyarakat dari ancaman kelompok bersenjata. Meski demikian dia masih berharap sekolah yang dipimpinnya bisa kembali beroperasi dalam waktu dekat.

Sejumlah sekolah, terutama di provinsi Sahel, menjadi sasaran langsung kelompok militan Islam yang menentang sistem pendidikan Barat. Di daerah lain, seperti Foube, sekolah ditutup para guru karena khawatir mereka menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata.

Sementara beberapa sekolah tetap dibuka tetapi kosong karena para orangtua khawatir anak mereka menjadi sasaran serangan saat berangkat ke sekolah. Di dekat kota Foube, ada sebuah sekolah, yang terlihat beroperasi normal tetapi semua ruang kelasnya kosong.

"Saya tak yakin anak-anak akan kembali," kata seorang guru, Joseline Ouederago.

"Namun, jika beberapa dari mereka kembali, kami akan berusaha sebaik mungkin agar mereka bisa mengejar ketertinggalan," tambah Joseline.

Beberapa sekolah tetap akan tutup dan kosong untuk sementara waktu karena ribuan orang meninggalkan desa dan tinggal di kamp pengungsian.

Angka pengungsi ini meningkat pesat dari 43.000 orang pada Desember menjadi 100.000 orang pada Januari lalu. Masalah keamanan bukan hanya disebabkan kelompok militan Islam.

Di sebuah kamp di Barsalogho, wilayah utara tengah, lebih dari 1.000 orang mengungsi menghindari kekerasan antar-suku. Lebih dari separuh pengungsi itu adalah anak-anak. Sebanyak 100-an orang anak mengisi dua ruang kelas darurat yang disediakan untuk mereka.

Sayangnya, tak semua anak pengungsi memiliki akses ke layanan pendidikan darurat. Mereka ini biasanya mengungsi ke desa-desa tetangga dan hidup menumpang di kediaman warga.

Di desa Gorgadji, wilayah Sahel, 1.000 orang pengungsi baru saja datang karena menghindsri kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah tetangga, Soum.

Menurut kepala desa Gorgadhji, Boniface Kabore hanya sekitar 30 anak terdaftar di 32 sekolah yang tersedia di kawasan itu.

Masalah keamanan yang memburuk dan kian menyebar di Burkina Faso memberikan dampak langsung kepada anak-anak.

"Saat anak-anak tidak bersekolah, terutama di masa konflik, mereka bukan hanya tak bisa mempelajari kemampuan untuk membangun komunitas yang damai dan sejahtera," kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF.

"Mereka ini akan menjadi rapuh terhadap bentuk-bentuk eksploitasi termasuk pelecehan seksual dan dipaksa menjadi tentara anak," tambah dia.

Sementara itu, pemerintah Burkina Faso mengatakan, mereka sudah bekerja untuk mengatasi masalah ini.

"Kami akan mengembalikan keamanan di seluruh wilayah. Saya tidak bisa mengatakan caraya atau rinciannya, tetapi yang jelas ada beberapa rencana untuk mengatasi masalah ini," kata juru bicara pemerintah Remis Dandjinou.

"Di beberapa wilayah kami sudah bisa membuka kembali, di beberapa tempat lain kami menutup. Jadi strateginya berbeda tergantuk lokasi," tambah Remis.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 46 kali