cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

San Francisco(MedanPunya) San Francisco menjadi kota pertama di AS yang melarang penggunaan teknologi pengenal wajah oleh polisi atau lembaga pemerintah lainnya.

Larangan tersebut merupakan bagian dari pengaturan undang-undang dan kebijakan audit untuk sistem pengawasan.

"Kecenderungan teknologi pengenal wajah membahayakan hak dan kebebasan warga sipil," demikian bunyi UU yang disahkan pada Selasa (14/5).

Dalam UU itu disebutkan, adalah melanggar hukum bagi departemen mana pun untuk menggunakan Face Recognition Technology atau mengakses informasi apa pun dari teknologi tersebut.

Meski demikian, larangan itu tidak termasuk di bandara atau fasilitas lain yang diatur pemerintah federal. Kekhawatiran tentang teknologi pengenal wajah, termasuk bahaya orang tidak bersalah secara keliru diidentifikasi sebagai pelaku kejahatan.

Selain itu, sistem tersebut dapat melanggar privasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun para pendukung penggunaan teknologi itu menyebut, sistem pengena wajah bisa membantu polisi melawan kejahatan dan menjaga jalanan tetap aman.

Teknologi ini diklaim telah membantu polisi menangkap penjahat berbahaya, tetapi juga dikritik karena kesalahan identifikasi.

"Pengenalan wajah dapat digunakan untuk pengawasan umum dalam kombinasi dengan kamera video publik," American Civil Liberties Union.

"Teknologi itu dapat digunakan secara pasif yang tidak memerlukan pengetahuan, persetujuan, atau partisipasi dari subjek," lanjutnya.

"Bahaya terbesar adalah teknologi ini akan digunakan untuk sistem pengawasan umum yang mencurigakan," imbuhnya.

Seperti diketahui, teknologi pengenal wajag telah dipakai oleh otoritas China secara luas. Pihak berwenang China memakai sistem teknologi itu untuk melacak minoritas Muslim Uighur di seluruh negeri.

Beijing telah menuai kecaman luas atas perlakuannya terhadap warga Uighur di wilayah barat laut Xinjiang. Di wilayah tersebut, terdapat 1 juta anggota kelompok minoritas yang berbahasa Turki telah ditahan di kamp-kamp.

Teknologi pengenalan wajah terintegrasi ke dalam jaringan besar kamera pengintai China. Sistem tersebut telah diprogram untuk mencari secara eksklusif untuk komunitas Uighur berdasarkan penampilan mereka dan menyimpan catatan pergerakan mereka di seluruh China.

Hal itu yang dianggap sebagai contoh pertama dari pemerintah yang secara sengaja menggunakan AI atau kecerdasan buatan untuk menciptakan profil ras.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 7 kali