cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

Washington(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah pemberitaan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan 120 ribu tentara AS guna melawan Iran. Namun Trump menegaskan dirinya tidak mengesampingkan kemungkinan mengerahkan lebih banyak pasukan di masa mendatang.

"Saya pikir itu berita palsu," kata Trump mengenai pemberitaan media New York Times bahwa Gedung Putih tengah mengkaji rencana untuk mengirimkan 120 ribu tentara ke Timur Tengah sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran.

"Sekarang, apakah saya akan melakukan itu? Tentu saja. Namun kita belum merencanakan itu," ujar Trump.

"Mudah-mudahan kita tidak harus merencanakan itu. Jika kita melakukan itu, kita akan mengirim pasukan yang jauh lebih banyak daripada itu," imbuhnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah mengerahkan sebuah kapal induk dan pesawat-pesawat pengebom berkemampuan nuklir ke wilayah Timur Tengah.

Menurut pemberitaan New York Times, pengerahan 120 ribu pasukan yang tengah dipertimbangkan tersebut tak akan digunakan untuk menyerang Iran.

Pemerintahan Trump belakangan ini meningkatkan ketegangan dengan Iran yang telah menjadi musuh lama AS dan sekutu-sekutu penting AS, yakni Israel dan Arab Saudi. Ketegangan meningkat setelah Trump secara sepihak memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran yang dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada tahun 2018. Juga setelah Amerika menerapkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran dan secara praktis memaksa negara-negara lain turut mengembargo Iran.

Salah satu contoh nyata adalah negara-negara yang selama ini mendapat pengecualian mengimpor minyak dari Iran; China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Turki, mulai Juni mendatang terancam dikenai sanksi AS jika mereka terus membeli minyak dari Iran.

Tentu risiko sanksi AS dalam upaya mengisolasi kembali Iran agar mau membuat perjanjian baru tentang program nuklirnya tersebut, telah memperkeruh keadaan. Sebab, tak dapat dipungkiri banyak negara memerlukan pasokan minyak dari Iran.

Terlebih lagi, beberapa negara juga sudah terlanjur berinvestasi di Iran setelah dicapai kesepakatan perjanjian nuklir JCPOA tahun 2015 antara Iran dengan AS, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan China.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 49 kali