cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Havana(MedanPunya) Enam bulan sejak dibukanya akses internet secara penuh untuk pengguna ponsel di Kuba, warga justru frustasi karena biaya yang mahal namun dengan akses lambat dan banyaknya sensor pemerintah.

Kini ratusan pengguna internet telah bergabung dalam kampanye melalui Twitter untuk mendesak pemerintah menyediakan layanan internet yang layak, dimulai dari harga yang lebih murah.

"Kami lapar, lapar akan informasi, lapar untuk berselancar di dunia maya, haus akan pengetahuan dan kebebasan intelektual," tulis salah seorang pengguna internet.

Sementara, pengguna lain menuding pemerintah telekomunikasi milik negara Etecsa telah memata-matai populasi.

Biaya paket internet di Kuba saat ini masih tergolong mahal bagi masyarakat Kuba yang merupakan salah satu masyarakat dengan daya beli terendah di benua Amerika.

"Daya beli masyarakat Kuba termasuk salah satu yang terendah di benua Amerika, dengan upah minimum, namun akses ke internet tidak murah," ujar pengamat teknologi Norges Rodriguez.

Harga paket internet seluler di Kuba untuk 600 MB adalah sebesar 7 dollar AS atau sekitar Rp 99.000, hingga 30 dollar AS (sekitar Rp 427.000) untuk 4 GB. Tingkat harga itu tak terjangkau untuk sebagian besar rakyat Kuba yang hidup dengan upah sekitar 30 dollar AS per bulan.

Sementara untuk sambungan internet rumah, penyerapannya terbilang sangat rendah, dengan hanya ada 79.000 rumah yang telah terdaftar dari 11,2 juta populasi.

"Jika Anda ingin terhubung ke internet di rumah selama 24 jam sehari tujuh hari seminggu, maka Anda harus membayar hingga 800 dollar AS (sekitar Rp 11 juta) per bulan."

"Tidak ada tarif tetap untuk layanan ini seperti yang Anda miliki di belahan dunia lainnya," tambah Rodriguez.

Rodriguez mengatakan, pemerintah Kuba juga melarang akses situs-situs berita yang kritis terhadap pemerintah.

"Pemerintah telah memblokir akses ke semua situs media yang kontenya tidak sesuai dengan pemerintah," ujarnya.

"Dan dengan adanya embargo AS, maka situs-situs seperti Google, Apple, dan Amazon tidak dapat diakses menggunakan alamat IP Kuba," tambah dia.

Pemerintah Kuba baru-baru ini telah memberi lampu hijau untuk impor router yang memungkinkan masuknya jaringan wifi pribadi, meski masih harus menggunakan server Etecsa yang dimonopoli oleh negara.

Kritik mengatakan, biaya yang dibayarkan per jam membuat akses internet di Kuba masih terlalu mahal.

Sebelum diluncurkannya teknologi 3G di Kuba pada Desember tahun lalu, yang memberi peluang akses internet bagi 5,3 juta pengguna ponsel pintar di negara itu, akses internet bagi masyarakat umum di Kuba hanya bisa diperoleh melalui hotspot wifi yang dibayar per jam.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 17 kali