cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Pyongyang(MedanPunya) Korea Utara (Korut) melontarkan kecaman kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) Mike Pompeo dengan menyebutnya sebagai "racun mematikan".

Selain itu, pejabat tinggi setempat juga berjanji mereka bakal terus menjadi "ancaman terbesar" AS, dan menyebut latihan perang gabungan AS serta Korea Selatan (Korsel) "merumitkan" perundingan denuklirisasi.

Dalam rilis resminya, Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho mengatakan, mereka tak hanya siap untuk berdialog. Namun tetap mempertahankan kewaspadaan.

Ri menuturkan Washington pasti sudah salah jika mengira mereka bisa terus menekan negaranya dengan sanksi, bukan mencabutnya.

"Kami akan terus bertahan sebagai ancaman terbesar AS selama yang diperlukan supaya mereka paham apa yang harus dilakukan demi mencapai denuklirisasi," ancamnya.

Pyongyang menggelar serangkaian uji coba rudal jarak pendek dalam beberapa pekan terakhir sebagai bentuk protes terhadap latihan perang gabungan yang dianggap persiapan menginvasi mereka.

Seperti pada Sabtu ini (24/8), Seoul mengumumkan negara tetangga mereka itu kembali menembakkan "proyektil", sebutan untuk senjata yang belum teridentifikasi, ke laut.

"Militer kami masih melacak segala pergerakan di Utara sehubungan dengan potensi adanya uji coba tambahan." Demikian keterangan Kantor Staf Gabungan Korsel.

Uji coba disertai dengan berbagai retorika berisi kecaman memperburuk upaya pemulihkan dialog antara AS dan Korut yang sempat kolaps pada awal tahun ini.

Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un bertemu di Zona Demiliterisasi akhir Juni, dan sepakat memulai kembali dialog. Namun hingga saat ini urung terealisasikan.

Awal pekan ini, Utusan Khusus AS untuk Korut Stephen Biegun menyatakan Washington "bersiap untuk maju" jika mendengar kabar apa pun dari Korut, pernyataan yang disampaikan saat berkunjung ke Seoul.

Kemudian, Korut juga menyerang Pompeo atas apa yang disampaikannya dalam wawancara bersama Washington Examiner. Saat itu Pompeo berkata, mereka akan tetap mempertahankan sanksi jika Korut tak ingin denuklirisasi.

Ri menganggap Pompeo tidak tahu malu karena sudah melontarkan kalimat yang membuat mereka malu, dan memandang penuh keraguan sang Menlu AS bisa memberi solusi.

Pada awal Agustus, Trump menyatakan Kim sudah mengiriminya surat dengan tulisan tangan berisi harapan pembicaraan bisa kembali terjadi jika latihan perang gabungan telah usai.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 189 kali