cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Beijing(MedanPunya) Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Mike Pompeo menyebut perlakuan pemerintah China terhadap warga etnis minoritas Uighur sebagai "noda terburuk di dunia". Pemerintah China pun geram atas pernyataan tersebut.

Pekan lalu, saat berbicara di Kansas State University, Pompeo mengatakan bahwa Washington akan menggunakan sidang Majelis Umum PBB bulan ini untuk menggalang dukungan bagi warga Uighur, yang dilaporkan mengalami penahanan massal di bawah pemerintahan China.

"Ini mungkin berakhir sebagai salah satu noda terburuk di dunia abad ini. Ini sebesar itu," ujar Pompeo.

"Ini pada dasarnya bukan tentang keamanan nasional bagi mereka, ini bukan tentang ekstremisme Islam di China barat," kata Menlu AS itu. "Ini tentang kebebasan dan martabat bagi individu," tandasnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying geram atas pernyataan Menlu AS tersebut.

"Kebohongan para politisi Amerika tidak bisa menipu orang di seluruh dunia dan hanya akan mengungkap lebih lanjut tujuan motif politik mereka yang tersembunyi," cetus Hua Chunying.

"Kami menyatakan ketidakpuasan kami yang kuat dan penolakan tegas terhadap para pejabat AS yang mengabaikan fakta-fakta ... dan secara serius mencampuri urusan dalam negeri China," katanya kepada wartawan pada konferensi pers di Beijing.

China telah menjadi sorotan internasional atas kebijakannya di wilayah barat laut Xinjiang, di mana sebanyak satu juta warga Uighur dan minoritas muslim lainnya ditahan di kamp-kamp pendidikan ulang. Demikian menurut temuan panel PBB pada tahun 2018.

Setelah awalnya menyangkal keberadaan kamp-kamp tersebut, Beijing kini membela kamp-kamp, yang disebutnya sebagai "pusat pendidikan kejuruan", sebagai langkah yang diperlukan untuk melawan ekstremisme agama dan terorisme.

Pada Juli lalu, pejabat-pejabat China mengumumkan bahwa sebagian besar orang telah keluar dari kamp-kamp tersebut, tanpa menyebutkan jumlahnya. Hal ini menuai kemarahan dan keraguan dari diaspora Uighur, yang kebanyakan masih tetap tidak menghubungi keluarga dan teman-teman mereka di Xinjiang.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 25 kali