cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...
cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...

Jakarta(MedanPunya) Kelompok-kelompok HAM di Tanzania mengecam seorang gubernur yang menghukum cambuk belasan murid sekolah karena melanggar aturan sekolah. Para murid tersebut dicambuk karena ketahuan membawa ponsel ke sekolah.

Video rekaman adegan hukuman cambuk tersebut viral di internet. Dalam rekaman tersebut, Albert Chalamila yang menjabat sebagai Gubernur Mbeya di Tanzania selatan, mencambuk 14 murid sekolah yang semuanya berbaring di tanah.

Sang gubernur memberikan tiga kali cambukan untuk masing-masing pelajar. Para siswa tersebut dihukum karena melanggar aturan larangan membawa ponsel ke sekolah mereka.

Hukuman cambuk tersebut dilakukan di depan teman-teman sekolah para siswa tersebut, para guru dan polisi. Dalam video yang viral itu, sejumlah guru bahkan terdengar memberikan dukungan pada Chalamila saat dia mencambuki para murid tersebut.

Anna Henga, pemimpin sebuah NGO bernama Legal and Human Rights Center (LHRC) mengecam hukuman tersebut dan menyebutnya "keji dan tercela" serta sebuah pelanggaran jabatan. "Orang yang tepat untuk menghukum murid adalah kepala sekolah," cetusnya.

Hal senada disampaikan Onesmo Olengurumwa, koordinator untuk kelompok Tanzania Human Rights Defenders Coalition (THRDC), yang menyebut Chalamila telah melakukan "bukan hanya penyalahgunaan kekuasaan namun juga pelanggaran kriminal."

Berdasarkan UU tahun 1979, hukuman fisik di negeri itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sekolah, dan hanya dibolehkan jika terjadi pelanggaran serius. Hukuman tersebut dilakukan dengan satu kali cambukan ringan di tangan atau bokong.

Hukuman fisik di sekolah-sekolah menuai kontroversi di negeri itu tahun lalu setelah seorang anak laki-laki berumur 13 tahun di provinsi Kagera, Tanzania utara, tewas akibat luka-luka yang disebabkan oleh gurunya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 19 kali