cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...
cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...

San Francisco(MedanPunya) Peretas ( hacker) Iran dilaporkan melakukan serangan siber jelang perhelatan Pilpres AS pada 2020 mendatang. Dalam keterangan resminya, Microsoft membeberkan peretas Iran, kemungkinan didukung pemerintahnya, melakukan setidaknya 2.700 upaya.

Mereka mengidentifikasi surel dari pejabat, jurnalis yang meliput politik, hingga tim kampanye, baik mantan maupun yang masih aktif.

Meski tak menyebut identitas tim kampanye yang disasar, dua sumber mengungkapkan hacker Iran itu menargetkan Trump.

Selain Teheran, peretas dari Rusia dan Korea Utara (Korut) dikabarkan juga menyasar organisasi yang bekerja sama dengan kandidat presiden di Pilpres AS 2020.

"Kami sudah melihat serangan siber di sejumlah kampanye, dan yakin volume serta intensitasnya bakal meningkat hingga pemilu," ujar Oren Falkowitz, Chief Executive Cybersecurity Company Area 1.

Laporan Microsoft mengindikasikan serangan siber dan upaya merusak kampanye atas kandidat presiden bakal meningkat di 2020.

Pada Pilpres AS 2016, hacker Rusia menginfiltrasi jaringan komputer baik Partai Demokrat maupun Republiik.

Kemudian secara selektif, mereka menyebarkan surel Demokrat, termasuk milik ketua kampanye Hillary Clinton, John D Podesta, demi mencederai reputasi Hillary.

Microstof menyatakan serangan itu terjadi pada periode 30 hari antara Agustus hingga September lalu, atau hari ketika Trump menjatuhkan sanksi tambahan ke Iran.

Pemerintah Iran meradang dan mengatakan bahwa sanksi yang ditujukan untuk menghantam sektor perminyakan, membuat ekonomi mereka berada di level resesi.

Terbaru, Washington mempertimbangkan melakukan serangan siber ke Iran sebagai balasan atas serangan fasilitas minyak Arab Saudi, Aramco, padapertengahan September lalu.

Dalam penjelasan Microsoft, diketahui hacker Iran itu sudah terlibat dalam kampanye besar melawan AS.

Mereka menuturkan, peretas itu sudah mencoba menyerang 241 akun menggunakan cara yang cukup canggih. Seperti menggunakan informasi tentang calon korban guna menemukan kata sandi.

Meski tak membeberkan apa yang diserang, dalam bukti yang terkumpul disebutkan peretas mencoba mengorek kotak masuk surel korban. Namun dalam empat kasus, tidak ada yang berhubungan dengan tim kampanye.

Kepastian itu dikatakan Tim Murtaugh, direktur komunikasi kampanye Trump, begitu juga perwakilan capres lainnya. Selama beberapa pekan, anggota FBI, Kementerian Keamanan Dalam Negeri, dan Dinas Keamanan Nasional menyatakan mereka menyoroti aktivitas peretasan Iran.

Para pejabat mengatakan bahwa seluruh tim kampanye capres disasar. Namun Trump dianggap sebagai target utama jika melihat kiprahnya selama menjabat.

Pada Mei 2018, dia mengumumkan menarik diri dari perjanjian nuklir yang dibuat pendahulunya, Barack Obama, di 2015.

Selain menjatuhkan sanksi, Trump juga mengumumkan militer elite Iran, Korps Garda Revolusi, sebagai organisasi teroris.

Pejabat keamanan di Komite Nasional Demokratik sudah mewanti-wanti Teheran mencoba untuk membongkar surel mereka menggunakan metode spearphishing.

Nantinya, si korban bakal mengklik tautan mencurigakan, yang bakal memberi celah bagi hacker untuk masuk dalam jaringan korban.

Setelah Pilpres AS 2016, Partai Demokrat sudah memberi tahu Republik untuk waspada. Mereka menyatakan tidak menutup kemungkinan peretas tak bakal membantu mereka.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 24 kali