cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

Washington(MedanPunya) Sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali digelar pada Rabu (20/11) waktu setempat. Dalam sidang yang disiarkan langsung ini, seorang diplomat senior AS secara langsung melibatkan Trump dalam skema untuk memaksa Ukraina menyelidiki rival politiknya saat pilpres mendatang.

Atau dengan kata lain, diplomat senior AS itu menyangkutkan Trump dalam dugaan penyalahgunaan kekuasaan yang menjadi inti sidang pemakzulan ini.

Gordon Sondland yang merupakan Duta Besar AS untuk Uni Eropa dan juga sekutu Trump, memberitahu para anggota parlemen AS bahwa dirinya mengikuti perintah Trump dalam mengupayakan kesepakatan 'quid pro quo' agar Ukraina menyelidiki Joe Biden sebagai pertukaran dengan undangan ke Gedung Putih bagi Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Biden merupakan kandidat capres Partai Demokrat yang berpotensi menjadi rival terkuat Trump dalam pilpres 2020 mendatang. Kata 'quid pro quo' merupakan istilah bahasa Latin yang berarti 'sesuatu untuk sesuatu'.

Sondland menyebut Trump menangguhkan undangan dan rencana pertemuan di Gedung Putih untuk Presiden Zelensky, hingga Ukraina menyelidiki Biden dan anaknya, Hunter, yang menjabat anggota dewan direktur perusahaan energi Ukraina, Burisma.

"Saya tahu bahwa anggota komisi ini sering membingkai masalah rumit ini dengan pertanyaan sederhana: Apakah ada quid pro quo? Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, berkaitan dengan permintaan panggilan Gedung Putih dan pertemuan Gedung Putih, jawabannya adalah iya," ucap Sondland di hadapan Komisi Intelijen House of Representatives (HOR) AS.

Menurut Sondland, Trump mengarahkan dirinya dan beberapa diplomat lain untuk bekerja sama dengan pengacara pribadinya, Giuliani. Sondland menilai bahwa Giuliani terus berupaya menekan Presiden Zelensky, agar Ukraina menyelidiki dua hal. Pertama, menyelidiki Biden terkait Burisma dan kedua, menyelidiki teori konspirasi, yang diyakini Trump, bahwa Ukraina membantu Partai Demokrat melawan Trump dalam pilpres 2016 lalu.

"Permintaan Giuliani merupakan sebuah quid pro quo untuk mengatur kunjungan Gedung Putih untuk Presiden Zelensky," sebut Sondland.

Tidak hanya itu saja, Sondland juga menyatakan bahwa beberapa pejabat Gedung Putih dan anggota kabinet Trump mengetahui soal skema terhadap Ukraina itu. Dia menyebut nama Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, Menteri Energi Rick Perry, pelaksana tugas (Plt) Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney dan Wakil Presiden Mike Pence mengetahui apa yang sedang terjadi saat itu.

"Semua orang ada dalam lingkaran. Itu bukanlah rahasia," tegas Sondland. "Kami mengikuti perintah presiden (dalam bekerja dengan Giuliani)" imbuh Sondland dalam keterangannya.

Keterangan yang disampaikan Sondland ini bersesuaian dengan keterangan sejumlah saksi lainnya yang sebelumnya dihadirkan di hadapan parlemen AS. Di sisi lain, keterangan Sondland bertentangan dengan Trump yang selama ini berulang-ulang menegaskan tidak ada 'quid pro quo' dengan Ukraina.

Partai Demokrat menyebut keterangan Sondland ini sangat mendukung tuduhan penyalahgunaan kekuasaan yang akan membenarkan pemakzulan Trump nantinya. "Testimoni hari ini merupakan salah satu bukti paling signifikan yang pernah ada. Ini langsung mengenai inti isu penyuapan juga potensi kejahatan tinggi atau pelanggaran lainnya," sebut ketua komisi yang memimpin penyelidikan pemakzulan Trump, Adam Schiff, dari Partai Demokrat.

Menanggapi hal ini, Trump meminta agar penyelidikan pemakzulan terhadap dirinya segera diakhiri. "Witch Hunt pemakzulan sekarang berakhir! Witch Hunt ini harus berakhir sekarang. Sungguh buruk untuk negara kita!" tulis Trump dalam kicauan via akun Twitter-nya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 28 kali