cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

Washington(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memecat Pemimpin Angkatan Laut (Navy) AS, Richard Spencer, usai terjadi pertikaian terkait kasus disiplin kontroversial yang melibatkan komando elite SEAL yang menikam mati tahanan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Spencer mengkritik Trump usai dipecat.

Spencer dipecat dari jabatannya sebagai Navy Secretary atau Sekretaris Navy, sebuah jabatan sipil, pada Minggu (24/11) waktu setempat.

Pemecatan terjadi di tengah laporan yang menyebut kepemimpinan militer AS marah atas campur tangan yang dilakukan Trump dalam sejumlah kasus disiplin. Beberapa waktu terakhir, Trump mencabut sanksi penurunan pangkat yang dijatuhkan terhadap seorang personel Navy SEAL yang dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran dalam tugas militer.

Spencer merespons pemecatannya itu dengan kritikan untuk Trump. "Saya tidak lagi memiliki pemahaman yang sama dengan Panglima Tertinggi (Trump-red) yang menunjuk saya, terkait prinsip-prinsip utama soal ketertiban dan disiplin," tulis Spencer dalam suratnya yang dirilis sejumlah media lokal AS.

"Saya dengan ini membenarkan pemecatan saya sebagai Sekretaris Navy Amerika Serikat," tegasnya.

Pertikaian antara Spencer dan pemerintahan Trump fokus pada nasib seorang personel Navy SEAL, Edward Gallagher, yang dituduh melakukan kejahatan perang dalam kasus penting, namun akhirnya hanya dinyatakan bersalah atas tindak pelanggaran yang lebih ringan.

Gallagher yang seorang komando Navy SEAL, dituduh menikam mati seorang tahanan ISIS yang luka-luka di Irak tahun 2017 lalu. Dia juga didakwa atas percobaan pembunuhan terhadap sejumlah warga sipil dan menghalangi penegakan keadilan.

Pada Juli lalu, dia dilepaskan dari dakwaan-dakwaan terkait tuduhan di atas, namun dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran karena berfoto dengan salah satu jasad militan dalam sebuah foto grup dengan personel SEAL lainnya. Sebagai hukumannya, Gallagher mendapat penurunan pangkat dari 'chief petty officer' ke 'petty officer first class'.

Namun pada 15 November lalu, Trump selaku Panglima Militer AS mencabut sanksi penurunan pangkat yang dijatuhkan terhadap Gallagher. Keputusan Trump ini dianggap membahayakan proses peradilan militer AS.

Pada Minggu (24/11) waktu setempat, Trump menyebut Gallagher telah 'diperlakukan sangat buruk' oleh Angkatan Laut AS. Trump juga menyebut bahwa Spencer telah diminta untuk mundur terkait isu tersebut dan terkait tuduhan gagal dalam mengelola kelebihan anggaran.

Ditegaskan oleh Trump bahwa Gallagher tidak akan dikeluarkan dari satuan komando elite SEAL (Laut, Udara dan Darat). "Eddie (Gallagher-red) akan pensiun dalam damai dengan semua gelar kehormatan yang didapatkannya," ucap Trump via akun Twitternya.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, menyatakan bahwa dirinya sempat meminta Spencer untuk mengundurkan diri 'setelah hilang kepercayaan dan keyakinan terhadapnya terkait kurangnya kejujuran dalam pembicaraan dengan Gedung Putih'. Esper menyebut dirinya 'sangat terganggu atas perilakunya'.

"Saya tidak bisa, dengan hati nurani yang baik, untuk mematuhi sebuah perintah yang saya yakini melanggar sumpah sakral yang saya ambil... untuk mendukung dan membela Konstitusi," ucap Spencer dalam suratnya untuk Trump.

Dia menegaskan bahwa menjaga ketertiban dan disiplin dalam jajaran Angkatan Laut AS merupakan 'persoalan sangat serius'.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 32 kali