cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...
cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...

Tel Aviv(MedanPunya) Intelijen Israel disebut turut berperan dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, di Baghdad, Irak. Seperti apa perannya?

Sejumlah informan di Bandara Damaskus, Suriah berhasil memberikan informasi kepada Badan Intelijen Pusat AS atau CIA soal pesawat yang mana yang akan ditumpangi Soleimani dan kapan dia terbang ke Irak.

Intelijen Israel, sekutu AS, disebut membantu mengonfirmasi dan memverifikasi detail informasi tersebut.

Informasi soal penerbangan rahasia Soleimani menyebut bahwa dia akan terbang dengan pesawat Airbus A320 milik Cham Wings Airlines dari Damaskus ke Baghdad pada 3 Januari 2020. Menurut seorang pegawai maskapai Cham Wings Airlines, nama Soleimani maupun anak buahnya tidak terdaftar pada manifes penerbangan.

Begitu pesawat tersebut mendarat di Baghdad, sejumlah mata-mata AS yang standby di Bandara Internasional Baghdad -- yang juga menjadi markas personel militer AS -- mengonfirmasi keberadaan Soleimani. Tiga drone militer AS bergerak ke posisi, mengudara di wilayah udara Irak. Setiap drone dipersenjatai empat rudal Hellfire.

Momen saat Soleimani turun dari pesawat dan disambut Wakil Komandan milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis 'disiarkan langsung' kepada para pejabat AS di berbagai lokasi. Direktur CIA, Gina Haspel, mengamati dari markas CIA di Langley, Virginia. Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyaksikan dari lokasi lainnya.

Saat itu, sekitar pukul 01.00 dini hari, situasinya masih gelap sehingga tayangan infrared tidak begitu jelas. Namun Komando Pusat AS yang bermarkas di Qatar, yang menjadi pusat komando operasi ini, tidak memiliki keraguan bahwa sosok tersebut adalah Soleimani, yang diklaim tengah merencanakan serangan besar terhadap diplomat dan personel militer AS di Timur Tengah.

Informasi ini didapat dari dua sumber yang sangat memahami operasi militer AS terhadap Soleimani, juga sejumlah pejabat AS yang tidak bisa disebut namanya.

Tayangan infrared menunjukkan Soleimani dan Al-Muhandis masuk ke dalam mobil sedan, yang diikuti oleh rombongan keduanya yang menumpang sebuah minivan. Baik Soleimani maupun Al-Muhandis tidak menyadari nyawa mereka akan direnggut dalam hitungan menit.

Ketika dua kendaraan keluar dari bandara, drone militer AS mengikuti. Kondisi lalu lintas di jalanan dekat Bandara Internasional Baghdad saat itu cukup sepi, dengan hanya beberapa kendaraan lainnya melintas. Saat minivan itu berhenti di depan sedan yang ditumpangi Soleimani, rudal ditembakkan ke arah dua kendaraan itu.

Tayangan infrared menunjukkan momen saat rudal-rudal Hellfire menghantam dua kendaraan itu. Bola api raksasa menyelimuti dua kendaraan itu. Total ada empat rudal yang ditembakkan. Tidak ada korban selamat dari serangan drone itu. Soleimani dipastikan tewas bersama Al-Muhandis.

Sejumlah penyidik Irak menuturkan kepada Reuters bahwa AS mendapatkan bantuan dari dua staf keamanan di Bandara Internasional Baghdad dan dua pegawai Cham Wings Airlines. "Juga seorang mata-mata di Bandara Damaskus dan satu mata-mata lainnya yang bekerja di dalam pesawat," ungkap sumber yang dikutip Reuters.

Para penyidik pada Dinas Keamanan Nasional Irak meyakini empat tersangka, yang belum ditangkap, bekerja sebagai satu kelompok dalam memberikan informasi kepada militer AS. Mereka diduga kuat memberikan informasi soal penerbangan rahasia Soleimani ke Baghdad, yang dikonfirmasi oleh intelijen Israel.

Laporan media-media Israel menyebut Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memberitahu lebih awal Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, soal rencana AS membunuh Soleimani. Pompeo, seperti dilaporkan The Times of Israel, menelepon Netanyahu pada 1 Januari untuk berterima kasih atas dukungan Israel bagi upaya memerangi Iran dan dukungan setelah Kedutaan AS di Irak diserang milisi pro-Iran.

Sebelum terbang ke Yunani, Netanyahu menyebut 'hal yang sangat dramatis' akan terjadi di kawasan Timur Tengah. "Kita tahu bahwa wilayah kita penuh badai, hal yang sangat, sangat dramatis akan terjadi di wilayah ini. Kita waspada dan memantau situasi. Kita terus berkomunikasi dengan teman baik kami, AS," ucap Netanyahu kepada wartawan di Bandara International Ben Gurion saat itu.

Beberapa jam kemudian Soleimani dipastikan tewas dalam serangan drone AS di Irak. Media terkemuka AS, The New York Times (NYT), menyebut Netanyahu menjadi satu-satunya sekutu AS yang mengetahui sejak awal soal rencana operasi AS menewaskan Soleimani.

Menanggapi laporan itu, Mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Liberman, yang menjabat Ketua Partai Yisrael Beytenu menyebut laporan NYT yang didasarkan pada sumber-sumber Israel memiliki 'penilaian buruk'. "Mereka biasanya bergantung pada sumber-sumber Israel. Saya sarankan Anda memeriksa siapa mereka (sumber-red)," ucapnya.

Secara terpisah, Komandan Komando Selatan Militer Israel, Mayor Jenderal Herzi Halevi, menjauhkan Israel dari operasi AS yang menewaskan Soleimani. Halevi menyebut Israel bukan fokus dalam isu ini.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 9 kali