cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Washington(MedanPunya) Presiden Donald Trump hampir pasti lolos dari pemakzulan setelah Senat AS memutuskan untuk menolak adanya upaya pemanggilan saksi baru. Dengan perbandingan 51-49, Senat menggugurkan usulan Demokrat untuk mendatangkan sejumlah saksi. Termasuk mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton.

Setelah ini, sidang pemakzulan Trump di level Senat AS bakal berlanjut dengan mendengarkan argumentasi akhir dari DPR AS maupun kuasa hukum sang presiden Senin (3/2).

Kemudian 100 senator, 53 di antaranya berasal dari Republik yang notabene partai sang presiden, bakal menggelar voting untuk membebaskannya Rabu (5/2/2020).

Pemungutan suara itu bakal terjadi sebelum presiden 73 tahun itu dijadwalkan memberi Pidato Kenegaraan di DPR AS pada Selasa (4/2/2020).

Mengingat dibutuhkan dua per tiga suara, yang artinya 67 senator, Trump hampir pasti lolos dari pemakzulan karena sebagian besar politisi Republik berpihak padanya.

Adalah Senator Lamar Alexander asal Tennessee yang memutuskan untuk tidak mendukung upaya Demokrat mendatangkan saksi baru.

Senator berusia 79 tahun itu mengumumkan bahwa dia tidak perlu melihat atau mendengarkan bukti baru lagi.

Dia berkilah, Trump memang terbukti telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan upaya menghalangi penyelidikan yang dilakukan Kongres.

Namun dalam pernyataan resminya, politisi yang bakal pensiun dari Senat di tahun ini tersebut menegaskan, masa depan Gedung Putih bukan di tangan mereka, melainkan publik AS.

"Saya percaya Konstitusi menyediakan publik untuk memutuskan siapa yang akan mereka dukung dalam pilpres Iowa Senin nanti," terangnya.

Hanya dua senator Republikan, Mitt Romney dan Susan Collins, yang memutuskan membelot dengan mendukung upaya pemanggilan saksi.

Chuck Schumer, Pemimpin Minoritas Senat AS, seusai sidang menyatakan "tragedi besar" mereka tidak bisa mengupayakan bukti baru.

"AS akan mengingat hari ini. Hari di mana Senat tidak menjalankan tanggung jawabnya, berbalik dari kebenaran, dan menggelar sidang memalukan ini," kecamnya.

Sementra Ketua DPR AS Nancy Pelosi, sosok yang mengumumkan Trump dimakzulkan Desember lalu, menuding Republik sengaja membantu sang presiden menutupi perbuatannya.

"Dia sudah dimakzulkan selamanya. Tidak ada pembebasan tanpa sidang. Tidak ada sidang tanpa saksi, bukti, dan dokumen," katanya.

Trump dimakzulkan setelah menahan bantuan militer Ukraina sebesar 391 juta dollar AS, sekitar Rp 5,3 triliun, agar bersedia menginvestigasi Joe Biden.

Biden, yang merupakan wakil Presiden Barack Obama periode 2008 sampai 2017, merupakan calon penantangnya di Pilpres AS 2020.

Demokrat berusaha memanggil Bolton setelah dalam buku terbarunya, dia mengklaim mendengar langsung Trump ingin bantuan itu dibekukan hingga Ukraina bersedia menyelidiki Biden.

Trump sudah menolak tudingan tersebut, dan menyebut sidang pemakzulan terhadap dirinya "hoaks" dan merupakan "upaya kudeta".

Presiden ke-45 dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" itu menjadi pemimpin ketiga yang dimakzulkan setelah Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1998).***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 28 kali