cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Beijing(MedanPunya) Pejabat top China mengakui, negaranya mengalami "kekurangan" dan "tantangan" dalam memerangi virus corona yang membunuh lebih dari 400 orang. Terdapat kasus 64 kasus kematian baru yang terjadi dalam 24 jam terakhir (3/2), dan membuat korban meninggal mencapai 425 orang.

Korban meninggal di China itu melampaui 349 yang merupakan catatan kematian akibat wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) pada 2002-2003.

Virus corona itu juga menyebar lebih dari 20 negara, dengan para pemimpin setempat memberlakukan aturan perjalanan yang ketat.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan status darurat, dengan korban meninggal di luar Negeri "Panda" diumumkan di Filipina, di mana menimpa pria 44 tahun asal Wuhan.

Beijing pun menuduh AS menyebar kepanikan ketika mengumumkan status darurat di negaranya, dan melarang warga asing yang punya riwayat pergi ke China dalam 2 pekan terakhir untuk datang.

Komite Tetap Politbiro meminta adanya peningkatan sistem manajemen darurat nasional di tengah upaya memerangi virus.

Mereka mengakui adanya "kekurangan dan tantangan" yang terungkap ke publik di tengah usaha pencegahan yang dilakukan.

"Sangat penting untuk memperkuat pengawasan pasar, menerapkan larangan, serta menindak pasar perdagangan hewan liar ilegal," ujar komite.

Komite Politbiro juga menekankan kebutuhan mendesak alat-alat medis yang harus segera dicukupi.

Seperti pakaian hazmat, masker operasi, dan goggle. Otoritas di provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 300 juta sudah memerintahkan setiap warganya untuk mengenakan masker.

Namun, pabrik yang bisa memproduksi masker hingga 20 juta unit per hari, saat ini dilaporkan hanya bisa memenuhi kebutuhan 60-70 persen.

Juru bisa kementerian industri Tian Yulong mengatakan, permintaan dan penawaran berada di "angka yang tipis" menyusul penambahan durasi Libur Tahun Baru Imlek.

Tian menuturkan, kenyataan di lapangan itu membuat pemerintah mulai bergerak dengan mencari suplai masker dari Eropa, Jepang, hingga AS.

Selain itu, sejumlah negara seperti Korea Selatan, Kazakhstan, hingga Hongaria mulai mendonasikan peralatan medis mereka.

Kebanyakan dari korban meninggal dicatat di Wuhan dan kota yang berada di dalam wilayah Provinsi Hubei. Otoritas memutuskan untuk menutupnya demi mencegah penularan.

Dengan lebih dari 20.400 kasus infeksi yang ditemukan, angka kematian akibat virus corona lebih rendah dari 9,6 persen yang dibukukan saat SARS.

Di Wuhan, pemerintah memutuskan mengebut untuk menyelesaikan dua rumah sakit baru yang bisa digunakan untuk merawat pasien virus China.

Harian pemerintah People's Daily memberitakan, salah satu dari fasilitas itu, yang berisi 1.000 ranjang, mulai menerima pasien pada Senin.

Tidak dijelaskan berapa banyak pasien yang dilarikan ke sana. Sementara rumah sakit kedua direncanakan bakal dioperasikan pekan ini.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 27 kali