cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Washington(MedanPunya) Seperti yang telah diperkirakan, pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump oleh DPR AS tidak mendapat persetujuan Senat AS yang dikuasai Partai Republik. Trump pun batal digulingkan. Ini menjadi keberhasilan terbaru Trump dalam menghindari berbagai permasalahan yang menderanya.

Selain skandal seks, berikut kasus-kasus lain yang tadinya dianggap bakal menumbangkan karier politiknya:

Berbicara cabul

Pada 7 Oktober 2016, sebulan sebelum pemilihan presiden, sebuah rekaman berusia satu dekade dirilis. Dalam rekaman itu, Trump terdengar membicarakan kaum perempuan dengan kata-kata tak senonoh. Dalam rekaman yang kini terkenal dengan istilah "Akses Hollywood" itu, Trump yang ketika itu menjadi host acara populer reality show "The Apprentice", menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa status selebritisnya memungkinkan dia meraba perempuan sesukanya.

"Saat Anda seorang bintang, mereka membiarkan Anda berbuat itu," ujar Trump dalam rekaman itu. "Anda bisa melakukan apapun. Pegang vagina mereka. Anda bisa melakukan apapun," kata Trump.

Saat itu para politikus terkemuka Partai Republik geram soal rekaman tersebut. Skandal itu diduga akan menggagalkan upaya pencalonan Trump -- banyak pihak memprediksi hal itu akan membuat Trump kehilangan suara dari kaum perempuan. Namun nyatanya mereka keliru. Trump berhasil mengalahkan capres dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dan memenangi pemilihan presiden sebulan kemudian. Dia bahkan meraih dukungan 52 persen dari kalangan pemilih perempuan berkulit putih.

Dilaporkan bahwa setidaknya 17 perempuan telah menuduh Trump melakukan pelecehan seksual atau serangan seksual. Trump telah membantah semua tuduhan tersebut.

Charlottesville

Pada 12 Agustus 2017, kelompok supremasi kulit putih, neo-Nazi dan anti-Semit -- yang tergerak oleh terpilihnya Trump dengan platform anti-imigrasinya -- berkumpul di Charlottesville, Virginia untuk menggelar aksi demo. Massa yang menentang kebijakan anti-imigrasi Trump menggelar aksi demo tandingan di kota tersebut. Bentrokan pun terjadi. Seorang neo-Nazi dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke kerumunan pengunjuk rasa, hingga menewaskan seorang perempuan berusia 32 tahun.

Trump bereaksi atas bentrokan maut tersebut dengan mengatakan ada "orang yang sangat baik" di kedua pihak. Komentar Trump yang tidak mengutuk aksi neo-Nazi tersebut menuai kemarahan publik termasuk dari partainya sendiri. Namun kemarahan itu pun kemudian menguap, dan Trump terus berkuasa.

Bintang porno

Setahun kepresidenan Trump, pada Januari 2018, seorang bekas bintang film porno yang dikenal sebagai Stormy Daniels -- nama sebenarnya Stephanie Clifford -- melontarkan klaim bahwa dirinya pernah berkencan dengan Trump, sepuluh tahun silam, dan bahwa dirinya dibayar untuk tutup mulut soal skandal seks tersebut.

Pengacara Trump, Michael Cohen kemudian mengaku membayar US$ 130 ribu kepada Clifford sebagai uang tutup mulut, beberapa pekan sebelum pemilihan presiden 2016. Meski Cohen kemudian dipenjara karena melanggar aturan pendanaan kampanye, Trump nyaris tak terganggu akibat terkuaknya skandal seks tersebut. Bahkan skandal seks tersebut tak banyak mengurangi dukungan untuk Trump, bahkan di kalangan kaum konservatif agama.

Penyelidikan Mueller

Pada Mei 2017, mantan direktur FBI, Robert Mueller ditunjuk sebagai penasihat khusus untuk menyelidiki apakah anggota tim kampanye kepresidenan Trump berkonspirasi dengan Rusia agar dirinya terpilih menjadi presiden, serta upaya selanjutnya oleh Trump untuk menghalangi keadilan.

Penyelidikan Mueller mengungkap jejak kelakuan buruk yang menyebabkan tuduhan terhadap setengah lusin mantan rekan Trump termasuk mantan manajer kampanye Paul Manafort, orang kepercayaan Roger Stone, mantan pembantu top Michael Flynn dan Cohen. Meskipun penyelidikan 22 bulan tidak membebaskan Trump, Mueller menganut kebijakan Departemen Kehakiman untuk tidak mendakwa presiden yang masih menjabat -- yang pada akhirnya memungkinkan Trump untuk menyatakan dirinya bebas.

Surat pemberitahuan pajak yang sulit dipahami

Trump adalah presiden AS pertama sejak Richard Nixon yang tidak mengumumkan pengembalian pajaknya kepada publik, dan mengklaim bahwa itu sedang diaudit oleh Internal Revenue Service.

Pada Oktober 2016, The New York Times mengungkapkan bahwa Trump melaporkan lebih dari US$ 1 miliar dalam kerugian bisnis pada tahun 1995 -- berpotensi memungkinkannya untuk menghindari membayar pajak penghasilan selama dua dekade.

Kubu Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat kemudian beralih ke pengadilan untuk memaksa perilisan pengembalian pajak Trump dan catatan-catatan lain dalam kasus-kasus yang dianggap sebagai ujian penting pemisahan kekuasaan.

Namun presiden sejauh ini Trump berhasil menolak tuntutan mereka, dengan kasus-kasus tersebut tetap tersimpan dalam sistem pengadilan AS.

***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 34 kali