cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Damaskus(MedanPunya) Seorang anak yang menjadi korban pengeboman di Idlib, Suriah, berharap semoga Tuhan membalas Presiden Bashar al- Assad dan Rusia.

Wajih Al Asali tengah berada di bengkel mobil ketika serangan udara terjadi di lokasinya, dan membuat kawasan itu menjadi puing-puing.

Kini, Wajih dirawat dengan tubuh penuh perban, jari-jari yang membengkak serta terkena kotoran dan darah, maupun napas yang terasa berat.

Serangan udara itu terjadi di salah satu alun-alun utama Idlib, dengan tujuh anak dilaporkan tewas.

Ratusan ribu orang memutuskan mengungsi dari provinsi di sebelah barat laut Suriah, dan berbatasan dengan Turki di tengah gempuran pasukan pemerintah. Ayah Wajih adalah anggota kelompok pemberontak.

Namun, adalah anaknya yang harus menanggung akibat karena orangtuanya tak mendukung Damaskus.

"Kami hanya sedang duduk di bengkel. Namun, mereka mencoba menyerang kami. Semoga Tuhan membalas dengan membunuh Bashar (Assad) dan Rusia," ujar Wajih.

Korban anak-anak lain yang diangkat dari reruntuhan pasca-serangan adalah Rinad Zaidan. Dia tengah bermain dengan adiknya, Mohammed, ketika tertimpa puing-puing gedung.

Dari lokasi aman di dekat perbatasan Turki, Rinad yang kepalanya diperban mengisahkan bagaimana dia dan adiknya segera diselamatkan.

"Pertahanan sipil (White Helmets) membawa kami ke rumah sakit. Mereka mengambil pecahan dari pipi serta kepala adik saya," jelasnya.

Tim penyelamat kemudian beralih kepada bocah tujuh tahun itu di mana dia dipindahkan ke rumah sakit lain agar luka di tubuhnya segera dirawat.

Rinad dan keluarganya memutuskan meninggalkan rumah mereka di Saraqib tiga hari lebih awal sejak penyerangan tersebut.

Rinad melanjutkan, dia ingin segera kembali ke sekolah setelah serangan berakhir dan belajar. "Saya ingin jadi dokter dan merawat anak-anak," katanya.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 139 kali