cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

New York(MedanPunya) Miliarder Michael Bloomberg mengumumkan mundur dari pertarungan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat.

“Saya mencalonkan diri untuk mengalahkan Donald Trump. Hari ini saya mengakhiri kampanye saya juga untuk mengalahkan Donald Trump. Jika saya tetap melanjutkan kampanye, tujuan kita bersama akan semakin sulit tercapai,” tutur Bloomberg di Hotel Sheraton, New York, Rabu siang (4/3) waktu setempat

Mantan Wali Kota New York ini menyatakan dukungannya kepada mantan Wakil Presiden Joe Biden untuk mengalahkan Trump pada pilpres November 2020.

“Sangat jelas kandidat yang dapat mengalahkan Trump adalah teman saya Joe Biden.”

Bloomberg selama ini dikenal sebagai seorang bankir Wall Street yang kemudian mendirikan perusahaan penerbitan yang belakangan menggunakan namanya sebagai nama medianya yang fokus pada pemberitaan industri keuangan.

Orang terkaya nomor sembilan di dunia versi Majalah Forbes itu menggelontorkan 500 juta dollar AS kekayaannya (Rp 7.08 triliun) untuk membiayai kampanyenya dengan fokus iklan media massa dan media sosial di negara-negara bagian dengan jumlah delegasi besar.

Jumlah iklan yang dibelanjakan Bloomberg seorang hampir menyamai total biaya kampanye empat pesaingnya yakni Biden, Senator Vermont Bernie Sanders, Senator Massachusetts Elizabeth Warren, dan mantan Wali Kota South Bend Pete Buttigieg.

Salah satu contoh kampanye mahalnya adalah blitz iklan TV berbiaya 37 juta dollar AS (Rp 524 miliar).

Selain belanja iklan, Bloomberg menghabiskan pundi-pundi kekayaannya untuk menggaji 300 staf kampanye, 200 orang di antaranya bekerja intensif di markas kampanyenya di New York. Bloomberg menggaji para staf kampanyenya hingga 6.000 dollar AS per bulan (Rp 85 juta).

Gaji itu lebih tinggi 70 persen dibandingkan staf kandidat presiden lain yang hanya dibayar 3.500 dollar AS per bulan (Rp 50 juta).

Namun kampanye jor-joran itu tidak memberikan kemenangan yang diharapkan. Pebisnis berusia 78 tahun itu hanya mampu menang di satu wilayah yaitu teritori Samoa Amerika pada hari pemilihan Super Tuesday.

Bloomberg tidak berdaya di negara bagian lain termasuk di negara-negara bagian besar seperti California, Texas, Virginia, Carolina Utara di mana dia telah memasang iklan-iklan mahalnya.

Dari 14 negara bagian, hasil terbaik Bloomberg adalah peringkat ketiga di 9 negara bagian. Hasil buruk ini membuat dia hanya mendapatkan 53 delegasi, tertinggal jauh dari Biden yang saat ini memimpin dengan 566 delegasi.

Desakan mundur memang terus mengalir deras karena kekhawatiran Bloomberg akan memecah suara Biden, sesama bakal capres berideologi moderat.

Tentunya perpecahan ini akan menguntungkan Sanders yang ideologi kirinya telah menimbulkan kepanikan di kalangan elit partai yang menilainya terlalu radikal untuk mengalahkan Trump.

Sejatinya taipan media ini menolak maju pada awal musim kampanye, Maret 2019. Bloomberg mengubah pikirannya pada November 2020 setelah dia khawatir sosok Biden tidak dapat mengalahkan Sanders.

Dia memposisikan dirinya sebagai bakal capres alternatif untuk pemilih blok moderat. Pria dengan kekayaan bersih 55.5 milliar dollar AS (Rp 787 triliun) ini merupakan pengkritik keras Sanders yang menurutnya berpotensi merusak industri keuangan Amerika Serikat dengan kebijakan anti-korporatnya.

Awalnya kampanye Bloomberg diperhitungkan karena latar belakang kesuksesan bisnisnya dan juga dana kampanye tidak terbatas yang dimilikinya.

Bahkan Bloomberg sempat mendekati Biden di sejumlah jajak pendapat setelah hasil buruk mantan Wakil Barack Obama itu di Kaukus Iowa dan Primary New Hampshire.

Namun penampilan buruk di debat Demokrat merusak kansnya untuk menjadi alternatif Biden. Bloomberg kesulitan untuk menjelaskan kebijakan Stop-and-Frisk atau cegat dan geledah ketika dia menjabat Wali Kota.

Kebijakan yang sangat tidak populer ini mengizinkan polisi untuk menghentikan, menggeledah, menginterogasi, atau menahan seseorang yang diduga melakukan tindak kriminal.

Mayoritas target adalah warga Afro-Amerika yang merupakan blok pemilih krusial yang selalu menentukan pemenang tiket capres Demokrat.

Sosok yang menjabat 12 tahun sebagai Wali Kota ini tidak mendapat dukungan signifikan dari pemilih kulit hitam yang menilai kebijakannya itu rasis.

Kemenangan besar Biden di Carolina Selatan dan Super Tuesday menyudahi prediksi Bloomberg bahwa kampanye Biden akan kolaps. Tidak ketinggalan Bloomberg juga kerap diserang rivalnya sebagai miliarder yang ingin membeli Gedung Putih dan demokrasi dengan kekayaannya.

Menyudahi konferensi persnya, dia mengatakan akan terus merogoh kekayaannya untuk membantu Partai Demokrat merebut kembali kursi presiden dan senat dari tangan Partai Republik.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 111 kali