cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Moskow(MedanPunya) Turki dan Rusia menyepakati gencatan senjata mulai tengah malam di provinsi Idlib, Suriah, dalam upaya menghindari eskalasi konflik.

Di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga sepakat membentuk koridor keamanan dan patroli bersama.

Bulan lalu, 36 pasukan Turki tewas di Idlib dalam serangan tentara pemerintah Suriah yang disokong Rusia.

Turki, yang menyokong kelompok pemberontak oposisi, merespons dengan menyerang tentara Suriah.

Insiden tersebut memunculkan kekhawatiran akan konflik militer langsung antara Turki dan Rusia.

Kesepakatan diumumkan setelah pembicaraan yang berlangsung selama enam jam antara Putin dan Erdogan di ibu kota Rusia, Moskow.

Kedua pihak mengatakan kesepakatan tersebut meliputi:

    Gencatan senjata mulai 00:01 waktu setempat pada hari Jumat (05:01 WIB) di sepanjang garis kontak
    Koridor keamanan sepanjang 6 kilometer di utara dan selatan dari jalan raya utama M4 Idlib, yang menghubungkan kota Aleppo dan Latakia yang dikuasai pemerintah
    Patroli gabungan Rusia-Turki di sepanjang M4 mulai 15 Maret

Meskipun telah menyepakati gencatan senjata, Turki "mempertahankan hak untuk melakukan serangan balasan dengan segala kekuatannya terhadap serangan dalam bentuk apapun" oleh tentara Presiden Suriah Bashar al-Assad, Erdogan memperingatkan.

Pada September 2018, Putin dan Erdogan sepakat untuk menjadikan Idlib "zona de-eskalasi". Wilayah tersebut dimaksudkan sebagai penyangga antara kedua pihak, dengan garis kontrol yang jelas, namun pertempuran terus berlangsung di sana.

Presiden Putin mengatakan, ia berharap kesepakatan ini "akan menjadi dasar yang baik untuk mengakhiri pertempuran di zona de-eskalasi Idlib dan mengakhiri penderitaan populasi warga sipil".

Koresponden diplomatik BBC Jonathan Marcus mengatakan masih ada banyak pertanyaan mendasar terkait gencatan senjata ini, termasuk berapa lama situasi damai akan bertahan, apakah pasukan pemerintah Suriah atau tentara Turki akan mundur ke zona yang ditentukan, dan bagaimana nasib sejumlah besar pengungsi.

Singkatnya, koresponden kami mengatakan belum jelas apakah rezim Assad dan para pendukungnya di Rusia telah menyerah untuk merebut kembali Idlib, dan apakah ini perubahan kebijakan yang permanen atau hanya kompromi sementara untuk mengurangi ketegangan dengan Ankara.

Pada 2018 silam, Rusia dan Turki menyepakati gencatan senjata dan zona de-eskalasi di Idlib namun kesepakatan tersebut telah berkali-kali dilanggar.

Idlib adalah satu-satunya provinsi yang masih diduduki pemberontak di Suriah.

Rusia dan Turki punya tujuan yang bertolak belakang di Suriah. Konfrontasi pasti akan terjadi. Ini akan selalu menjadi risiko jika strategi mereka tetap sama.

Rusia campur tangan saat rezim Assad berjuang untuk bertahan dan menyediakan senjata, memungkinkan pemerintah Suriah untuk merebut kembali sebagian besar wilayah yang dikuasai pemberontak.

Bagi Presiden Putin, perang Suriah telah menjadi bagian penting dalam upaya mengembalikan Rusia sebagai kekuatan di Timur Tengah dan sekitarnya.

Sedangkan Turki adalah pendukung paling setia kelompok milisi yang melawan rezim Assad.

Presiden Erdogan memandang provinsi Idlib sebagai kepentingan keamanan yang sah dan ingin Turki menjadi kekuatan terbesar di wilayah itu.

Presiden Putin dan Erdogan telah membuktikan bahwa mereka bisa berunding.

Bersama Iran, mereka mendukung upaya proses perdamaian di Suriah. Rusia menjual sistem pertahanan udara yang canggih kepada Turki. Gencatan senjata kurang lebih bertahan di Idlib hingga Suriah, Rusia, dan sekutu mereka kembali saling menyerang di musim dingin.

Namun pertempuran di dekat perbatasan Turki, mempengaruhi kepentingan yang dianggap vital oleh kedua pihak, telah mengakibatkan salah satu anggota kunci Nato menantang Rusia. Ini perkembangan yang berbahaya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 113 kali