cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Washington(MedanPunya) Pada Kamis (26/3) AS memasukkan 20 perusahaan Iran dan perusahaan yang berbasis di Irak, otoritas dan individual Iran ke dalam daftar hitam.

Tak hanya itu, AS menuduh mereka mendukung kelompok teroris dan meningkatkan tekanan kepada Teheran meski negara itu sedang kesulitan di tengah wabah virus corona.

Departemen Keuangan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa individu-individu dan entitas tersebut di antaranya pendukung Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan pasukan paramiliter serta spionase asing elitnya.

Selain itu juga pasukan Quds yang mengirim bantuan fatal ke milisi yang didukung Iran di Irak seperti Kataib Hezbollah dan Asaib Ahlul Haq.

Departemen Keuangan AS mengatakan individu-individu dan entitas tersebut terlibat dalam penyelundupan senjata ke Irak dan Yaman.

Mereka juga menjual minyak Iran yang masuk daftar hitam AS kepada Pemerintah Suriah, Bashar al-Assad, juga termasuk kegiatan lainnya yang tidak dijabarkan lebih detil.

Sanksi baru ini berupa pembekuan aset yang dimiliki AS dari orang-orang yang disebut tadi dan secara umum melarang orang AS berbisnis dengan mereka.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengatakan, "Iran menggunakan jaringan perusahaan depan untuk mendanai kelompok-kelompok teroris di seluruh wilayah."

Menurut Mnuchin, Iran selama ini juga telah menyedot sumber daya dari rakyat Iran sendiri dan memprioritaskan proxy-proxy teroris di atas kebutuhan dasar rakyatnya.

Sementara itu, menyikapi sanksi baru yang diberikan AS, pihak China dan Iran pada Kamis (26/3) membentuk grup negara-negara untuk meminta PBB menekan AS untuk mengangkat sanksi karena kondisi Iran kini tengah berjuang melawan wabah Covid-19.

China dan Iran menulis pesan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres, "Kami mendesak Anda untuk meminta pencabutan lengkap dan segera atas tekanan ekonomi ilegal yang koersif dan sewenang-wenang untuk memastikan respons penuh, efektif dan efisien dari seluruh anggota komunitas internasional soal wabah virus corona."

Pada Rabu lalu surat itu telah dilayangkan dan dipublikasikan di Twitter oleh Misi Iran kepada PBB. Surat itu tidak menunjukkan secara spesifik menyebutkan Washington tetapi delapan penandatangan surat itu semuanya menghadapi sanksi dari AS.

Para penandatangan surat itu mengatakan mereka menolak politisasi saat wabah macam tindakan AS tersebut.

Selain Iran dan China, dua negara yang paling terkena dampak virus corona, negara yang menandatangani termasuk Rusia, Venezuela, Korea Utara, Nikaragua, Kuba, dan Suriah.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 87 kali