cache/resized/8d4edbde1ebff7088c248583bb3e1899.jpg
Jakarta(MedanPunya) Niat calon jemaah haji 2020 untuk melaksanakan rukun islam kelima itu tahun ini ...
cache/resized/e9a998cef8693c549e26f2f21d9701fd.jpg
Washington(MedanPunya) Para pemuka agama Kristen di Amerika Serikat mengungkapkan kemarahan mereka ...
cache/resized/1a5b814444b68f4e3bcd007b5f81a218.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan pemerintah memutuskan tidak ...

Kabul(MedanPunya) Seorang tentara Afghanistan tega menusuk adik perempuannya yang masih remaja hingga tewas, usai dia menolak lamaran yang telah diatur oleh keluarganya. Kasus pembunuhan ini termasuk jenis pembunuhan atas nama kehormatan (honour killing).

Juru bicara kepolisian provinsi Sanaullah, Rohani mengatakan remaja berusia 18 tahun itu ditemukan tewas pada Senin (5/5) di distrik Baharak di provinsi timur laut Badakhshan. Dia ditusuk oleh saudara lelakinya, yang kemudian melarikan diri ke daerah kekuasaan Taliban.

Rohani menjelaskan, korban pertama-tama dicekik dengan tali dan kemudian ditikam hingga mati. "Saudaranya telah melarikan diri ke daerah kekuasaan Taliban, dan polisi telah melancarkan operasi pencarian untuk menangkapnya," kata Rohani.

Seorang aktivis hak-hak perempuan dari Badakhshan membenarkan pembunuhan itu. Korban ingin menikah dengan pria yang dicintainya, tetapi keluarganya ingin dia menikah dengan pria lain. Gadis itu menolak perjodohannya.

"Dia menolak lamaran perjodohan keluarganya dan menyerahkan diri kepada polisi, tetapi polisi justru mengembalikannya kepada keluarganya," kata aktivis Asifa Karimi.

"Saudaranya, seorang prajurit, membawanya pulang dan membunuhnya secara brutal dalam kasus pembunuhan demi kehormatan," sambungnya.

Sebagian masyarakat Afghanistan masih berpedoman pada tradisi ketat "kehormatan" yang memberi sedikit atau tidak ada suara bagi perempuan dalam hal-hal seperti siapa yang bisa mereka nikahi dan apakah mereka bisa mendapatkan pendidikan.

Fawzia Koofi, mantan anggota parlemen dari Badakhshan, menyalahkan polisi karena salah menangani kasus ini. Dia menuturkan, banyak orang di Afghanistan, termasuk di kepolisian dan kehakiman negara itu, percaya "pembunuhan demi kehormatan" adalah hukuman yang cocok untuk wanita yang kawin lari.

"Perempuan di Afghanistan masih merupakan yang paling rentan .... bagian dari masyarakat, tidak hanya di bawah wilayah yang dikuasai Taliban tetapi juga di rumah-rumah," tuturnya.

Untuk diketahui, selama kekuasaannya di akhir 1990-an, kelompok Taliban melarang wanita bekerja, pergi ke sekolah, dan memerintahkan mereka untuk sepenuhnya dilindungi ketika meninggalkan rumah mereka.

Para aktivis menyebut kekerasan terhadap perempuan masih tinggi di Afghanistan. Tahun lalu, Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) negara itu mencatat lebih dari 2.700 kasus kekerasan terhadap perempuan di Afghanistan, meningkat sembilan persen dibandingkan tahun sebelumnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 55 kali