Pemimpin ISIS di Afrika yang Dibunuh Perancis Kepalanya Dihargai Rp 71,2 M

Paris(MedanPunya) Perancis mengumumkan berhasil membunuh pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang beroperasi di Afrika.

Adnan Abu Walid al-Sahrawi, pemimpin ISIS di Sahara Besar, kepalanya dihargai 5 juta dollar AS (Rp 71,2 miliar) karena membunuh pasukan khusus AS.

Kematiannya terjadi empat tahun setelah dia memerintahkan penyergapan di Niger, yang membunuh empat tentara AS dan melukai puluhan lainnya.

Pada Kamis pagi waktu setempat (16/9), Presiden Perancis Emmanuel Macron mengonfirmasi al-Sahrawi, dikenal juga sebagai Lehbib Ould, tewas.

“Adnan Abu Walid al-Sahrawi, pemimpin grup teroris ISIS di Sahara Besar, telah dinetralkan pasukan Perancis,” kata Macron di Twitter.

Macron memuji tewasnya al-Sahrawi merupakan kesuksesan mereka dalam menerapkan operasi melawan kelompok teroris di Sahel.

Menteri Pertahanan Florence Parly kepada radio RFI menerangkan, mereka membunuh al-Sahrawi melalui operasi militer Barkhane “beberapa pekan lalu”.

Al-Sahrawi terbunuh ketika serangan udara “Negeri Anggur” menghantamnya saat menaiki sepeda motor.

Parly menjelaskan, serangan tersebut terjadi antara 17-22 Agustus. Dikutip AP, mereka butuh waktu untuk mengonfirmasi identitasnya sebelum membuat pernyataan.

Pada Oktober 2019, Kementerian Luar Negeri AS menawarkan hadiah 5 juta dollar bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi mengenai al-Sahrawi.

Dia menjadi buruan negara Barat setelah pada Oktober 2017, dia melakukan penyergapan yang berujung pada tewasnya empat tentara AS.

Adnan al-Sahrawi yang merupakan kelahiran Maroko juga mengeklaim, dia memerintahkan pembunuhan enam pekerja kemanusiaan Perancis pada Agustus 2020.

Keenam pekerja kemanusiaan tersebut dan pemandu mereka dibunuh saat berkunjung ke Kouré Giraffe, Niger.

Al-Sahrawi memulai kiprahnya di pertempuran dengan bergabung bersama kelompok gerilya melawan pasukan Maroko di Sahara.

Dia lalu bergabung dengan sejumlah kelompok teroris, sebelum menggabungkan diri bersama ISIS enam tahun silam.

Teroris yang sudah menikah itu pada Februari 2018 sempat hampir dibunuh Perancis di Meneka, Mali, tetapi lolos.

Sumber dari intelijen mengungkapkan, dia kabur dengan cara berjalan kaki di malam hari bersama beberapa anak buahnya.***kps/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version