Putin Tuntut Jaminan Keamanan Rusia, Tuduh Barat Sulut Ketegangan di Eropa

Moskow(MedanPunya) Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan dengan para petinggi militer hari Selasa (21/12) kembali menegaskan tuntutannya agar NATO menolak keanggotaan Ukraina dan negara-negara bekas Uni Soviet lainnya untuk menjadi anggota. Dia juga minta NATO menghentikan penempatan pasukan di Eropa Tengah dan Timur.

Tuntutan itu sebelumnya sudah disampaikan Putin dalam usulan rancangan perjanjian keamanan antara Moskow dengan AS maupun dengan NATO. Putin membantah bahwa Rusia memiliki rencana untuk menyerang Ukraina,namun mendesak jaminan hukum yang bahwa NATO tidak akan berekspansi lebih jauh ke Eropa Timur dan menempatkan senjata maupun pasukan di sana.

Presiden Rusia mengatakan, jika sistem rudal AS dan NATO muncul di Ukraina, rudal-rudal itu hanya butuh beberapa menit untuk mencapai Moskow. “Bagi kami, ini adalah tantangan paling serius, tantangan bagi kami keamanan,” katanya dan menambahkan, inilah alasan utama mengapa negaranya membutuhkan “jaminan jangka panjang yang mengikat secara hukum” dari Barat, bukannya “jaminan-jaminan verbal, kata-kata dan janji” yang tidak dapat dipercaya oleh Moskow.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, Washington bekerja dengan sekutu Eropa untuk mengatasi apa yang disebutnya ancaman “agresi Rusia” dengan diplomasi, tetapi Presiden Joe Biden “menentang” jaminan sebagaimana diinginkan oleh Putin.

“Presiden telah sangat jelas (posisinya) selama bertahun-tahun tentang beberapa prinsip dasar yang tidak berubah: Prinsip bahwa satu negara tidak memiliki hak untuk mengubah secara paksa perbatasan negara lain, bahwa satu negara tidak memiliki hak untuk mendikte kebijakan orang lain atau memberi tahu negara itu dengan siapa mereka mungkin menjalin hubungan,” kata Blinken kepada wartawan di Washington.

Hubungan Rusia dengan AS merosot ke tingkat terendah pasca-Perang Dingin setelah Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014 dan mendukung pemberontakan separatis di Ukraina timur. Ketegangan kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Moskow mengerahkan puluhan ribu tentara ke dekat perbatasan Ukraina.

Pada Selasa malam (21/12), Putin membicarakan usulan Rusia dalam panggilan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz. Menurut Kremlin, Putin memberi tahu Macron tentang “upaya diplomatik Moskow dalam masalah ini,” dan memberi “ulasan terperinci” kepada Olaf Scholz tentang rancangan perjanjian keamanan AS-Rusia dan NATO-Rusia yang diutarakan pekan lalu.

Konflik di Ukraina timur juga dibahas dalam kedua panggilan telepon, dengan Putin mengklaim bahwa Kiev enggan mengimplementasikan perjanjian Minsk – kesepakatan damai yang ditengahi oleh Prancis dan Jerman pada tahun 2015 yang bertujuan mengakhiri permusuhan skala besar di wilayah itu.

Namun hingga kini, semua upaya untuk mencapai penyelesaian politik dalam konflik Ukraina, yang telah menewaskan lebih dari 14.000 orang, telah gagal dan pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok separatis yang didukung Rusia tetap berlanjut secara sporadis.***dtc/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version