Rusia Blokir Laut Hitam, NATO Tak Terima

Brussels(MedanPunya) NATO keberatan atas rencana Rusia untuk memblokir sebagian Laut Hitam bagi pelayaran militer dan negara-negara asing.

Blok tersebut menyatakan, keputusan Rusia tersebut tidak dibenarkan. Mereka juga meminta Moskwa agar memberikan akses bebas ke pelabuhan Ukraina di Laut Azov.

Sebelumnya, media pemerintah Rusia melaporkan bahwa Moskwa bermaksud menutup sebagian Laut Hitam untuk militer dan negara-negara asing selama enam bulan mulai April hingga Oktober.

Rencana tersebut dapat memengaruhi akses ke pelabuhan Ukraina di Laut Azov, yang terhubung ke Laut Hitam melalui Selat Kerch.

Langkah tersebut lantas memicu kekhawatiran Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

“Militerisasi Crimea, Laut Hitam, dan Laut Azov yang sedang berlangsung Rusia merupakan ancaman lebih lanjut bagi kemerdekaan Ukraina,” kata Juru Bicara Kepala NATO.

Juru bicara tersebut menambahkan, keputusan Rusia itu hanya akan merusak stabilitas kawasan yang lebih luas.

Dia menambahkan, memblokir Laut Hitam akan menjadi tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

NATO meminta Rusia untuk segera menurunkan ketegangan, menghentikan pola provokasinya, dan menghormati komitmen internasional.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS John Kirby menyatakan, Rusia membenarkan rencana memblokir Laut Hitam hingga Oktober dengan alasan sedang mempersiapkan latihan militer.

“Rusia memiliki sejarah mengambil tindakan agresif terhadap kapal Ukraina dan menghalangi transit maritim internasional di Laut Hitam, khususnya di dekat Selat Kerch,” tutur Kirby.

“Itu hanya contoh terbaru dari kampanye yang sedang berlangsung untuk merusak dan mengguncang Ukraina,” tambah Kirby.

Dia menegaskan kembali dukungan kuat dari Washington untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.

“Kami menyerukan kepada Rusia untuk menghentikan gangguan terhadap kapal di wilayah tersebut dan menarik penumpukan pasukannya di sepanjang perbatasan Ukraina,” sambung Kirby.

Selat Kerch merupakan jalur laut yang sangat penting untuk ekspor biji-bijian dan baja dari Ukraina.

Perairan itu menjadi tempat konfrontasi pada 2018 setelah Rusia menyita tiga kapal Ukraina di sana karena dugaan pelanggaran perairan teritorialnya.

Sebelumnya, Ukraina bisa bebas berlayar di Selat Kerch bersama dengan Rusia.

Semua berubah pada 2014, ketika Moskwa mengeklaim kendali penuh atas jalur air tersebut setelah mencaplok Crimea.***kps/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version