Moskow(MedanPunya) Pemerintah Rusia mengecam apa yang disebutnya sebagai upaya “kekuatan asing” yang coba melakukan intervensi terhadap situasi terkini di Iran, yang sedang dilanda unjuk rasa antipemerintah besar-besaran.
Kecaman ini disampaikan Moskow setelah Amerika Serikat (AS) mengancam akan melakukan intervensi terhadap penindakan brutal oleh otoritas Teheran terhadap para demonstran.
Kecaman Rusia tersebut, disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, saat berbicara via telepon dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada Senin (12/1) waktu setempat.
Tanpa menyebut langsung nama AS, menurut pernyataan layanan pers Dewan Keamanan Rusia, Shoigu menyatakan dirinya “dengan tegas mengutuk upaya terbaru oleh kekuatan asing untuk melakukan campur tangan terhadap urusan internal Iran”.
Komentar Shoigu ini menjadi reaksi pertama Moskow terhadap kerusuhan yang meluas di Iran beberapa hari terakhir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada Minggu (11/1) waktu setempat, menuduh AS dan Israel “menebar kekacauan dan ketidakstabilan” dengan memicu kerusuhan di negaranya. Namun demikian, Teheran juga menyatakan bahwa pihaknya tetap membuka komunikasi dengan Washington.
Dalam percakapan telepon tersebut, Shoigu menyampaikan belasungkawa kepada Larijani atas “banyaknya korban” dalam situasi rusuh yang menyelimuti Iran.
Data terbaru dari kelompok HAM yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan sedikitnya 572 orang tewas akibat penindakan keras oleh otoritas Iran terhadap unjuk rasa yang berlangsung secara nasional dalam beberapa hari terakhir.
Sebagian besar korban tewas merupakan demonstran, meskipun puluhan anggota pasukan keamanan Iran juga tewas.
HRANA juga menyebut bahwa lebih dari 10.600 orang telah ditahan selama unjuk rasa berlangsung di Iran.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyerukan pemerintah Iran untuk menahan diri saat menanggapi laporan aksi kekerasan oleh otoritas Teheran terhadap para demonstran.
Sementara Presiden AS Donald Trump, dalam beberapa hari terakhir, telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap situasi unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan di Iran. Trump bahkan memperingatkan penguasa Iran agar tidak menggunakan tindak kekerasan terhadap para demonstran.
Pada Sabtu (10/1) pekan lalu, Trump mengatakan bahwa AS dalam posisi “siap membantu”.***dtc/mpc/bs
