cache/resized/675a260966b3e14d2cdd6154895895b3.jpg
New York(MedanPunya) Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) merilis laporan pada Senin (17/9) yang ...
cache/resized/5957554de960f1ba66819e189726e610.jpg
Jakarta(MedanPunya) Sejumlah kursi anggota DPR, MPR, dan DPD terlihat kosong dalam Sidang Tahunan ...
cache/resized/47b7f252018245065f5b45e3042ecdda.jpg
Washington(MedanPunya) Ajakan gandengan tangan Presiden AS Donald Trump ditolak Presiden Komisi ...

Singapura(MedanPunya) Harga minyak dunia cenderung stabil pada Senin (9/4). Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, harga minyak merosot 2 persen menyusul kekhawatiran kian memanasnya ketegangan perdagangan antara AS dengan China dan peningkatan aktivitas pengeboran di AS.

Acuan harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) CLc1 berada pada level 62,17 dollar AS per barrel. Angka tersebut menguat 11 sen atau 0,2 persen dibandingkan posisi pada perdagangan akhir pekan lalu.

Sementara itu, acuan harga minyak internasional Brent LCOc1 berada pada level 67,23 dollar AS per barrel. Angka tersebut menguat 12 sen atau 0,2 persen.

Pada Jumat (6/4) lalu, harga minyak dunia anjlok sekitar 2 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengancam pengenaan tarif baru terhadap produk-produk impor dari China. Ancaman yang ditebar Trump tersebut memicu kekhawatiran adanya perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia itu dan mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

"Meskipun bisa saja peningkatan perang dagang dapat mengganggu sentimen pertumbuhan ekonomi global, ketakutan sebenarnya adalah China, apabila ditekan cukup keras, dapat menerapkan pajak terhadap minyak AS yang diimpor ke China," ujar Stephen Innes, kepala perdagangan Asia Pasifik di broker OANDA di Singapura.

Di AS, perusahaan minyak menambah 11 rig baru untuk produksi sepekan hingga akhir pekan lalu. Dengan demikian, jumlah rig yang aktif saat ini mencapai 808 unit, tertinggi sejak Maret 2015. Ini membuat ekspor minyak AS meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.***kps/mpc/bs


  • 0 comment
  • Read 306 times