cache/resized/4b58a38fdcca9a594c83be1e8a19081b.jpg
Riyadh(MedanPunya) Sebuah laporan merebak bahwa penasihat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran ...
cache/resized/e76a786f47a2f13b6459e30c03d9ce01.jpg
Jakarta(MedanPunya) Institute for Criminal and Justice Reform ( ICJR) mempertanyakan pemenuhan ...
cache/resized/82b6617f94ea680115c3ba247773a2d5.jpg
New York(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kritikan kepada ...

Washington(MedanPunya) Hasil pemilu sela di AS diperkirakan bisa menyulitkan pemerintahan Presiden Donald Trump, karena DPR sekarang dikuasai kubu oposisi. Pasar uang bereaksi negatif, nilai tukar mata uang AS di pasar global turun.

Nilai tukar mata uang dolar AS mengalami tekanan dan melemah di kebanyakan pasar uang internasional pada Rabu pagi (7/11). Banyak mata uang lain menunjukkan tren menguat, antara lain euro. Salah satu penyebabnya adalah hasil pemilu sela yang diyakini bisa menghambat beberapa proyek ekonomi pemerintahan Trump. Tapi ada juga beberapa kebijakan yang mungkin lebih mudah diterapkan.

Pakar ekonomi di Ifo-Institut Mnchen Clemens Fuest menerangkan, Trump akan lebih sulit menjalankan agenda ekonominya. Namun kecenderungan proteksionisme bisa lebih kuat, karena Partai Demokrat memang dikenal lebih mendukung proteksionisme daripada partai Republik yang biasanya mempromosikan perdagangan bebas.

Clemens Fuest mengatakan, ada tiga konsekuensi penting dari hasil pemilu sela AS. "Pertama, Trump tampaknya akan kesulitan menerapkan keringanan pajak yang dia janjikan. Kedua, batas atas kredit bagi pemerintah harus dinaikkan bulan Maret mendatang, karena kas negara terancam kosong. Ketiga, Demokrat akan menekan Trump dengan membentuk bermacam Komisi Pemeriksa."

Kalau kas negara makin menyusut, Trump terpaksa harus menaikkan pemasukan, antara lain dengan menaikkan pajak, yang bertolak belakang dengan janji politiknya. Itu berarti, masa-masa booming yang sekarang sedang dialami AS bisa mendadak terhenti.

Menurut Fuest, strategi perang dagang yang saat ini dilancarkan pemerintahan Trump kemungkinan akan menguat, bahkan makin agresif terhadap Eropa dan Cina. Di dalam negeri, Trump akan sulit mewujudkan rencananya menaikkan anggaran militer atau membiayai pembangunan tembok pembatas di perbatasan ke Meksiko.

Dalam dua tahun ke depan, perekonomian AS bahkan terancam "diam di tempat", kata Fuest.

Direktur Ekonomi Bank Berenberg Holger Schmiedin mengatakan, karena kedua kamar di Kongres AS bisa saling blokir, politik yang mungkin dijalankan adalah "kompromi pada titik terendah". Padahal masih ada banyak hal penmting yang harus ditangani.

"Masalah-masalah terbesar AS adalah sektor pelayanan kesehatan, Medicare yang dicanangkan Obama dan ingin dibatalkan Trump, serta defisit anggaran yang makin membengkak. Semua masalah ini sekarang bisa terbengkalai," kata Schmiedin.

Direktur Ekonomi VP Bank Thomas Gitzel mengatakan, selama ini Trump menjalankan politik keuangan yang longgar. Kebijakan itu sekarang bisa dihadang oleh kubu Demokrat di parlemen.

"Selain itu, Demokrat di parlemen sekarang bisa membentuk berbagai komisi penyelidikan yang bisa menyudutkan Trump. Jadi ini masa-masa tidak nyaman bagi pusat pemerintahan", kata Gitzel.

Direktur Ekonomi Commerzbank Jrg Krmer memperkirakan, politik luar negeri AS malah bisa jadi lebih agresif. "Kalau trump tersudut di dalam negeri, bisa saja dia berpaling ke politik luar negeri dan bereaksi makin keras". Karena untuk kebijakan luar negeri, Presiden memang bisa bertindak cukup bebas.

Jrg Krmer menambahkan, perang dagang antara AS dan Uni Eropa tetap menjadi resiko besar bagi Jerman.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 20 kali