cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Jakarta(MedanPunya) Harga minyak dunia kembali melemah pada hari ini, Jumat (11/1/201). Pelemahan harga minyak dipicu oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi lantaran pembicaraan untuk mengakhiri perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum menawarkan solusi yang konkret.

Meskipun, organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas produksi minyak.

Harga minyak jenis Brent berada pada US$ 61,22 per barel atau turun 46 sen (0,75%) dari penutupan terakhir. Dalam sepekan terakhir Brent mengalami kenaikan sampai 7%.

Sementara, West Texas Intermediate (WTI) turun 34 sen atau 0,65% menjadi US$ 52,25 per barel. WTI telah naik sebanyak 9% dalam sepekan.

Pihak China sendiri menyatakan, perundingan dengan AS dalam tiga hari atau yang selesai Rabu telah menemukan 'dasar' untuk menyelesaikan masalah dagang. Namun, ada hal yang dipertaruhkan, termasuk kenaikan tarif AS atas impor China senilai US$ 200 miliar.

Sejalan dengan itu, shutdown pada pemerintahan AS memberikan dampak pada pasar keuangan yang luas.

"Jika kita mengalami perlambatan ekonomi, minyak mentah akan berkinerja buruk karena korelasinya terhadap pertumbuhan," kata Hue Frama, Manajer Portolio di Frame Funds, Sydney.

Selanjutnya, biaya produksi di China pada Desember menunjukkan pertumbuhan yang melambat lebih dari dua tahun. Hal ini menjadi kekhawatiran akan risiko deflasi yang membuat Beijing mencari dukungan kebijakan untuk menstabilkan ekonominya.

"Investor menjadi semakin yakin bahwa pengurangan produksi OPEC akan menyeimbangkan pasar," kata ANZ Bank.

Arab Saudi pada awal pekan ini menyatakan pembatasan pasokan minyak dimulai akhir Desember 2018 oleh OPEC dan produsen minyak non-OPEC termasuk Rusia yang akan membawa keseimbangan harga minyak.

"Kami percaya apresiasi harga lebih lanjut terjadi selama 2019, meskipun tahun ini akan ditandai dengan volatilitas yang berkelanjutan," kata Analis Fitch Solutions.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 81 kali