cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Jakarta(MedanPunya) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga. Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) rutin OJK disebutkan ada sejumlah sentimen positif yang mendorong pasar keuangan global dan aliran modal ke emerging market, termasuk Indonesia.

Kebijakan The Fed diperkirakan semakin akomodatif yang tercermin dari pernyataan pejabat The Fed yang cenderung dovish.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo menjelaskan pada Januari, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren pertumbuhan. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan tumbuh masing-masing sebesar 11,97% yoy dan 5,36% yoy, menguat dibandingkan periode sebelumnya.

Kredit kepada industri pengolahan, salah satu sektor dengan porsi kredit terbesar tumbuh menguat sebesar 11,63% yoy. Pertumbuhan kredit pertambangan dan konstruksi juga melanjutkan pertumbuhan masing-masing sebesar 23,28% yoy dan 24,42% yoy.

"Penghimpunan dana perbankan tumbuh stabil pada level yang moderat, tercermin dari DPK yang tumbuh sebesar 6,39% yoy," ujar Anto, Kamis (28/2).

Likuiditas perbankan disebut masih solid, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 198,53% dan 109,13%. Jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp 1.113 triliun pada akhir Januari 2019, dinilai berada pada level yang cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan. Capital Adequacy Ratio perbankan meningkat menjadi sebesar 23,58% pada Januari 2019. Risiko kredit berada pada level yang rendah, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,56% (NPL net 1,13%).

Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp 6,5 triliun di sepanjang Januari 2019, dengan jumlah emiten baru sebanyak 2 perusahaan. Sementara itu, total dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp762 triliun, meningkat 7,23% dibandingkan posisi yang sama tahun 2018.

Profil risiko lembaga jasa keuangan juga terjaga pada level yang manageable. Untuk rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,71%. Risiko pasar perbankan juga berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan sebesar 2,16%, di bawah ambang batas ketentuan.

Sementara itu, Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 315% dan 437%, jauh di atas ambang batas ketentuan. Kemudian untuk perolehan premi masing-masing sebesar Rp15,4 triliun untuk asuransi umum dan Rp8,5 triliun untuk asuransi jiwa pada Januari 2019.

Ke depan, OJK akan terus memantau perkembangan di pasar keuangan global dan domestik, serta dampaknya terhadap terhadap sektor jasa keuangan nasional.

"OJK juga senantiasa memperkuat koordinasi dengan para stakeholder terkait untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi potensi risiko di sektor jasa keuangan ke depan," ujarnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 53 kali