cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Tangerang(MedanPunya) Defisit neraca perdagangan kumulatif Januari-Desember 2018 menjadi yang terparah sepanjang sejarah Indonesia mencatatkan kegiatan ekspor dan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama setahun penuh di 2018 jumlah impor memang terbukti jauh lebih tinggi dibandingkan ekspornya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan faktor yang membuat neraca perdagangan masih defisit lantaran kinerja impor khususnya barang modal dan bahan baku meningkat signifikan. Peningkatan impor ini, kata Enggar sejalan dengan prioritas pemerintah membangun infrastruktur.

"Impor barang modal dan bahan baku masing-masing naik sebesar 22% dan 20%, ini semua untuk menunjang pembangunan infrastruktur dan konstruksi di tanah air," katanya saat membuka Rakernas Kemendag Tahun 2019 di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3).

Sepanjang 2018, ekspor barang Indonesia tercatat menurun dibanding tahun sebelumnya. Sementara impor justru naik.

Nilai ekspor barang Indonesia turun 1,04% (yoy) sedangkan impor barang tercatat naik 12,10% (yoy). Hal ini tentu menjadi pengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia menyusul adanya koreksi pada neraca perdagangan.

Faktor lainnya, lanjut Enggar, dampak dari perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) serta permintaan global yang melemah.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 67 kali