cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Jakarta(MedanPunya) Kinerja PT Pertamina (Persero) tengah menjadi sorotan di kuartal I-2019. Terutama, setelah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) merilis angka produksi di tiga bulan pertama.

SKK Migas bahkan mencatat kinerja ini masih menurun hingga 30 April 2019. Dari lima unit hulu Pertamina, hanya PT Pertamina Hulu Kaltim saja yang mampu mencapai realisasi lifting di atas target harian APBN, sedangkan sisanya memiliki rapor merah.

Berdasarkan data SKK Migas, untuk lifting minyak, dari PT Pertamina EP (PEP) hanya terealisasi 93% atau sebesar 79.340 BOPD dari target harian APBN yang sebesar 85.000 BOPD.

SKK Migas mencatat, decline rate ini lebih tinggi dari prognosis awal, ditambah hasil beberapa kegiatan yang belum mencapai ekspektasi. Untuk produksi minyaknya, sampai dengan 30 April 2019 sebesar 82.201 BOPD.

Selanjutnya kinerja lifting minyak Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Sampai dengan akhir April 2019 lifting minyaknya sebesar 42.717 BOPD atau 85% dari target APBN yang sebesar 50.400 BOPD.

Berdasarkan catatan SKK Migas, terjadi decline rate yang lebih tinggi di akhir 2018, serta belum berproduksinya beberapa sumur yang sudah selesai dibor. Untuk produksi minyak dan kondensat di PHM, tercatat sebesar 37.519 BOPD.

Kinerja di blok Mahakam ini memang jadi catatan tersendiri. Untuk kinerja lifting gas PHM sampai 30 April 2019, realisasinya baru 61% dari target APBN yang sebesar 1.100 MMSCFD, atau baru sebesar 667 MMSCFD.

Sedangkan realisasi produksi gas PHM di Blok Mahakam hingga akhir April 2019 tercatat sebesar 725 MMSCFD. Decline rate yang lebih tinggi di akhir 2018, serta belum berproduksinya beberapa sumur yang sudah dibor dinilai menjadi penyebab belum tercapainya target.

Kepala SKK Migas menyinggung BUMN Migas ini atas kinerjanya yang loyo.

"Kecepatan Pertamina dalam investasi dan keberanian, Pertamina kan BUMN kalau dia mengebor lalu tidak berhasil mereka takut dicatat kerugian negara," ujar Dwi.

Jika dilihat dari data rasio kesuksesan Pertamina lebih tinggi dibanding perusahaan migas lain. Tapi itu sebenarnya bukan hal yang harus dibanggakan. "Karena itu ngebornya di lokasi yang sudah pasti-pasti, tidak ada risiko," jelas Dwi.

Dwi menyadari keraguan dalam investasi ini, apalagi belakangan marak kasus pejabat-pejabat BUMN dipanggil aparat hukum karena kebijakan korporasi.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 12 kali