cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Jakarta(MedanPunya) Aksi massa yang berujung ricuh memberikan sentimen negatif ke nilai tukar Rupiah. Pagi ini dolar AS semakin mendekati Rp 14.500.

Menurut Analis dan Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, jika dilihat dari sisi eksternal sementara tidak ada faktor yang membuat rupiah tertekan. Indeks dolar AS pun hari ini menjinak.

"Kita melihat secara eksternal sedikit mereda. Indeks dolar flat di 98,03. Secara eksternal pelemahan rupiah tidak ada pengaruhnya. Ini pengaruh besar dari dalam negeri," ujarnya, Rabu (22/5).

Ibrahim menerangkan, pada saat pembukaan pertama dolar AS berada di posisi Rp 14.465, lalu sempat turun ke posisi Rp 14.461. Namun dalam waktu tak lama dolar AS terhadap rupiah ke Rp 14.485.

"Kerusuhan ini yang membuat pelaku pasar taking profit pasar di Indonesia," tambahnya.

Ibrahim juga menilai kondisi saat ini berbanding terbalik dengan pemilu 2014. Saat itu ketima KPU menyatakan Jokowi-JK menang, nilai tukar rupiah langsung melejit.

"Karena pada saat KPU mengumumkan yang menang Jokowi yang terjadi paslon 02 menolak dan terjadi kerusuhan," kata Ibrahim.

Menurutnya jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dolar AS bisa tembus ke level Rp 15.000 dalam hitungan hari. Kecuali jika ada pihak khususnya dari Paslon 02 yang meredamkan aksi massa.

"Tambah 500 poin itu sangat memungkinkan di situasi seperti ini. Kecuali paslon 02 beri arahan ke pendukungnya. Kalau berikan arahan untuk berhenti di jalan kemungkinan besar rupiah kondusif," tutupnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 34 kali