cache/resized/568a86d8d8e289493dd92041cc167676.jpg
Doha(MedanPunya) FIFA secara resmi meluncurkan logo Piala Dunia 2022. Logo Piala Dunia yang akan ...
cache/resized/e7d56ad1eb9b6dc4f18b672b05a683f0.jpg
Bangkok(MedanPunya) Kerajaan Thailand dilaporkan merilis foto selir Raja Maha Vajiralongkorn dalam ...
cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...

Jakarta(MedanPunya) Harga minyak Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan. Ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo memberikan isyarat ketegangan antara AS dan Iran sudah mereda.

Harga minyak mentah merosot 4,2%, setelah Pompeo mengatakan pada rapat kabinet, jika Iran siap bernegosiasi tentang programmnya.

Harga minyak mentah dipatok US$ 57,62 per barel, turun sekitar 3,3% dari hari sebelumnya. Sebelumnya harga minyak memang terus melonjak akibat adanya kekhawatiran konflik milter yang terjadi antara Iran dan AS di Selat Hormuz, atau ladang minyak di Timur Tengah.

Sebelumnya memang, serangan yang terjadi terhadap tanker minyak turut mengerek harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan sudah banyak negosiasi yang dibuat dengan Iran. Namun pada Selasa, Iran membantah jika mereka bersedia untuk membicarakan program misilnya.

Perwakilan Iran untuk PBB dalam sebuah pernyataan menyebutkan, Rudal Iran dalam kondisi apapun tidak dapat dinegosiasikan dengan siapapun atau negara manapun.

Namun jika negosiasi tersebut tetap dilakukan dan ketegangan mulai mereda, maka berpotensi untuk Trump mencabut sanksi-sanksi hukuman untuk Iran.

Direktur riset komoditas di ClipperData, Matt Smith mengungkapkan sanksi yang diberikan AS terhadap Iran telah menyia-nyiakan ratusan ribu barel minyak dari Iran dan membatasi pasokan minyak di dunia.

"Setiap berita bearish seperti ini turut memacu aksi jual yang kuat dan cepat," jelas dia.

Dia mengungkapkan, OPEC baru-baru ini berupaya untuk mendorong kembali harga minyak dengan memperpanjang pengurangan produksi yang dilakukan dengan rusia. Namun, pekan lalu hal ini justru dinilai sebagai kartel dan OPEC mendapatkan teguran.

"Ada tanda-tanda permintaan melambat, latar belakang ekonomi memang masih agak lemah," jelas dia.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 73 kali