cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Jakarta(MedanPunya) Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) memproyeksikan utang luar negeri ( ULN) swasta bakal membengkak sampai dengan akhir tahun 2019 dari posisi saat ini.

Berdasarkan data Bank Indonesia utang luar negeri Indonesia mencapai 395,3 miliar dollar AS atau setara Rp 5.534,2 triliun (kurs Rp14.000 per dollar AS) per Juli yang lalu.

Angka tersebut tumbuh 10,3 persen secara tahunan dan secara bulanan naik 9,9 persen. BI mencatat ULN swasta termasuk BUMN sebesar 197,8 miliar dollar AS dari total ULN.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menyatakan, penambahan utang tersebut dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto utang luar negeri dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Penguatan tersebut membuat utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dollar AS. Pertumbuhan ULN pemerintah meningkat juga sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Ekonom Indef Enny Sri Hartanti mengatakan, suku bunga BI atau BI 7 Day Reserve Repo Rate (BI7-DRR) masih lebih tinggi ketimbang suku bunga bank sentral global.

Sehingga, instrumen obligasi seperti Surat Berharga Negara (SBN) lebih diminati ketimbang obligasi negara lain. Di sisi lain, Enny menilai pendanaan initial public offering (IPO) yang semakin gencar menambah beban ULN swasta.

“Ambil alih swasta terhadap IPO sebuah perusahaan banyak, sehingga beban utang swasta numpuk,” kata Enny.

Sementara, utang BUMN tak dipungkiri dapat berlanjut karena kebijakan pemerintah. Enny melihat BUMN sektor infrastruktur semakin banyak berutang ke luar negeri karena program pembangunan yang digalakkan pemerintah.

“ Utang BUMN semakin tebal, karena mendapatkan penugasan infrastruktur dari pemerintah,” ujar Enny.

Dari sisi Enny mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, masih membebani ULN swasta. Dia memproyeksi rupiah masih berada di atas Rp 14.000 per dollar AS.

“AS masih menghadapi pelemahan ekonomi bahkan terancam resesi sehingga dollar AS melemah terhadap mata uang lain,” kata Enny.***knt/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 202 kali