cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Jakarta(MedanPunya) Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China membuat kondisi ekonomi global melambat. Bahkan, lembaga moneter internasional yaitu International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,2% jadi 3% untuk tahun ini.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global ini merupakan yang paling lambat sejak krisis keuangan 2008-2009.

"Dengan perlambatan yang terjadi dan pemulihan ekonomi yang tidak pasti, prospek global tetap genting," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath.

"Dengan pertumbuhan 3%, tidak ada ruang untuk kebijakan dan kebutuhan mendesak bagi para pembuat kebijakan untuk secara kooperatif mengurangi ketegangan perdagangan dan geopolitik yang terjadi," tambahnya.

Selain itu, konflik perdagangan dan penurunan penjualan mobil di seluruh dunia ikut membuat pertumbuhan perdagangan melambat, yakni turun pada semester pertama tahun ini dengan menjadi yang terlemah sejak 2012.

Sementara untuk 2020, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,4%. IMF mengatakan, pada 2020, tarif tambahan AS-China akan mengurangi output ekonomi global sebesar 0,8%. Ini berarti, kerugian senilai US$ 700 miliar atau setara dengan membuat ekonomi Swiss menghilang.

"Pelemahan dalam pertumbuhan didorong oleh penurunan tajam dalam aktivitas manufaktur dan perdagangan global, dengan tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang berkepanjangan merusak investasi dan permintaan barang modal," kata Gita.

Untuk 2020, IMF menyebutkan, pertumbuhan ekonomi global akan meningkat menjadi 3,4% lantaran ekspektasi kinerja yang lebih baik di Brasil, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, dan Turki.

Tapi, perkiraan ini sepersepuluh poin lebih rendah dari proyeksi Juli dan rentan terhadap risiko penurunan, termasuk ketegangan perdagangan yang lebih buruk, gangguan terkait Brexit, serta penolakan yang mendadak terhadap risiko di pasar keuangan.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 104 kali